Penyakit Pada Tanaman Kacang Hijau

Penyakit Pada Tanaman Kacang Hijau – Merupakan salah satu penyebab terjadinya gagal panen hingga keseluruhan dalam budidaya kacang hijau, Oleh sebab itu di perlukan nya penanganan ataupun pencegahan yang intensif dalam budidaya kacang hijau untuk menghindari kerugian besar.

Pada dasarnya penyakit yang sering menyerang tanaman kacang hijau juga merupakan penyakit – penyakit yang sering menyerang tanaman kacang – kacangan lainya.

Nah pada kesempatan kali jawatani media akan mengulas secara lengkap tentang hama pada tanaman kacang hijau mulai dari mengenal ciri- ciri hama, cara pengendalian atau cara mengatasinya, serta cara pencegahan terhadap serangan hama dalam budidaya kacang hijau.

Silahkan Baca Juga : Cara Menanam Kacang Hijau Hingga Panen

Penyakit Tanaman Kacang Hijau

penyakit virus mozaik

Contoh gambar penyakit kacang hijau

Beberapa penyakit penting yang dianggap merugikan tanaman kacang hijau adalah sebagai berikut:

1. Bercak Daun Cercospora

Para peneliti melaporkan penyakit bercak daun pada pertanaman kacang hijau disebabkan oleh cendawan Cercospora Canescens Ell. et mart yang dahulu cendawan tersebut juga disebut sebagai Cercospora Vignicaulis Tehon, dan cendawan Cercospora Cruenta Sacc yang juga disebut Pseudocercospora Cruenta (Sacc) Deighton.

Penyebaran kedua cendawan tersebut dapat melalui angin, percikan air hujan, ternak, alat-alat pertanian, dan pakaian. Faktor yang mendukung berkembangnya penyakit bercak daun Cercospora adalah udara yang lembab, hujan, dan embun.

Di tempat yang sejuk dengan kondisi suhu udara 20°C-24°C penyakit ini akan cepat berkembang. Tanaman kacang hijau yang diserang penyakit bercak-bercak daun Cercospora, daunnya berbercak-bercak kebasahan.

Bercak-bercak tersebut kemudian menjadi berwarna coklat sampai coklat kemerahan. Bercak berbentuk bulat hingga kurang teratur.

Pada tingkatan yang lebih parah, pusat bercak menjadi berwarna kelabu atau putih, dan bercak-bercak akan menyatu menjadi bercak yang besar.

Akibat serangan penyakit bercak daun Cercospora, maka daun-daun akan cepat gugur. Pada tingkat serangan yang berat dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 40-50 % (Nasir Saleh, 1995). Pencegahan dan pengendalian bercak daun Cercospora dapat dilakukan denga cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang cendawan Cercospora, antara lain kara, kacang panjang, kacang bogor.
  • b. Menanam varietes-varietes yang tahan penyakit bercak daun Cercospora, misalnya varietes walet, Nuri, Manyar, dan lain sebagainya.
  • c. Sisa-sisa tanaman sakit dibakar.
  • d. Penyemprotan dengan fungsida berbahan aktif Benomyl, misalnya Benlate, Agrosid 50 SD, Masulgin 50 WP; Maneb, misalnya Velimek 80 WP, Phycozan 70 WP, Pilaram 80 WP, dan lain sebagainya.

2. Kudis

enyakit kudis menyerang daun. Penyebabnya adalah Cendawan Elsinoe Iwatae Kajiwara et Mukelar atau disebut juga Elsinoe Glycines. Infeksi Cendawan elsinoe Iwatae pada tanaman hanya terjadi bila bila keadaan cuaca mendukung, yaitu cuaca lembab dengan suhu udara berkisar antara 25-28°C.

Menurut Mukelar (1985) dalam Haryono Semangun (1991) dinyatakan bahwa penyakit kudis tidak bisa berkembang pada suhu di bawah 20°C dan diatas 30°C. Dan, penyakit kudis juga tidak dapat berkembang di daerah-daerah yang memiliki Penyebaran penyakit kudis melalui spora yang dibantu dengan angin, percikan air hujan, air pengairan, sisa-sisa tanaman sakit.

Pada musim hujan, penyakit kudis mudah berjangkit dan berkembang. Tanaman kacang hijau yang diserang penyakit kudis gejalanya tampak pada daun, tangkai daun, batang, dan polong. Pada daun ditandai dengan bercak kecil bulat berwarna cokelat sampai cokelat kemerahan. Jaringan di sekitar bercak tampak menguning.

Bercak akan membesar dan tampak agak bersudut dan pada bagian tengah bercak berwarna kelabu atau putih kelabu. Selanjutnya, pada bagian bercak tersebut mudah berlubang. Bercak-bercak tersebut juga terjadi di sepanjang tulang daun dan tulang tengah dan menyerupai kanker.

Daun muda yang terinfeksi menjadi mengeriting (terpilin). Bercak tersebut bisa dilihat dengan jelas pada bagian permukaan bawah daun. Batang yang terinfeksi timbul bercak kecil bulat sampai jorong berwama cokelat sampai cokelat kemerahan dan di bagian pusat bercak berwarna kelabu.

Bercak akan membesar akibat dari bercak-bercak kecil yang menyatu. Polong muda yang terinfeksi, bercak-bercaknya tampak lebih jelas berwama cokelat kemerahan sampai cokelat tua dengan bagian pusatnya berwarna kelabu, bercak berbentuk bulat, agak bulat, joronng, atau bahkan tidak beraturan dengan ukuran bervariasi.

Jika polong telah masak (menua), bercak-bercak tersebut wamanya menjadi Iebih muda dan bercak tersebut terangkat. Pada serangan yang berat, biji kacang hijau menjadi keriput. Akibat penyakit ini dapat menurunkan produksi sampai 60%. Selain itu, biji-biji yang dihasilkan mengecil.

Pencegahan dan pengendalian penyakit kudis dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Menanam varietas yang tahan, yaitu jenis-jenis kacang hijau yang berbulu dan berbatang rebah. Misalnya, Nun; Carnar, dan lain sebagainya.
  • b. Tanaman yang sakit berat dicabut dan dibakar.
  • c. Sanitasi kebun.
  • d. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan kacang-kacangan.
  • e. Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif Tiofanat Metil (Topsin M 70 WP); berbahan aktif Benomyl (Agrosid 50 SD, Benlate, A4asalgin 50 Wp), berbahan aktif karbondazim ( Bavistin 50 WP, Derosal 500 EC, Hylite 150 EC, Defence 200/130, atau Derosal 60 WP) sangat efektif untuk mengendalikan penyakit kudis.

Silahkan Baca Juga : Hama Tanaman Kacang Hijau Dan Cara Mengatasinya


3. Penyakit Embun Tepung (Powdery Mildew)

Penyakit embun tepung disebabkan oleh cendawan Etysiphe Polygoni DC ex St Am. Perkembangbiakan cendawan Etysiphe Polygoni didukung oleh udara yang sejuk pada suhu udara berkisar antara 22°C-26°C dan kelembaban udara 80-88%. Penyebaran cendawan tersebut dibantu oleh keadaan udara yang kering dan banyak angin.

Keadaan yang basah (hujan terus menerus) dapat menghambat perkembangan penyakit. Oleh karena itu, berkembangnya penyakit embun tepung terjadi pada musim kemarau.

Tanaman kacang hijau yang diserang penyakit embun tepung tampak pada permukaan bagian atas daun, batang, dan polong tertutupi oleh bercak putih menyerupai tepung. Pada umumnya, gejala tersebut terlebih dahulu tampak pada daun-daun bawah. Lapisan putih tersebut adalah merupakan miselium, konidiofor, clan konidium jamur.

Penyakit embun tepung dapat menyebabkan daun layu dan rontok. Tanaman yang terserang parah sebelum pembungaan, maka tanaman tidak bisa membentuk polong.

Kalaupun bisa membentuk polong, polong yang terbentuk kecil-kecil dan menghasilkan sedikit biji yang tidak normal. Penyakit embun tepung mudah menyebar dari satu tanaman ke tanaman lainnya.

Pencegahan dan pengendalian penyakit embun tepung dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Menanam varietas yang tahan, misalnya Parkit, Walet, Merpati, Mungo.
  • b. Tanaman yang terinfeksi berat dicabut dan dibakar.
  • c. Sanitasi kebun.
  • d. Sisa-sisa tanaman dibakar atau ditimbun ke dalam tanah.
  • e. Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif benomyl, misalnya Benlate, Agrosid 50 SD, berbahan aktif Dinokap, misalnya Karathame 19,5 WP, berbahan aktif Fenaiimol, misalnya Rubigan 120 EC, atau yang berbahan aktif tembaga hidroksida, misalnya Kocide 80 AS, Kocide 77 WP, Fungaran 80 WP, Champion 77 WP.

Silahkan Baca Juga : ” Klasifikasi Dan Morfologi Kacang Hijau “


4. Penyakit Bercak Cokelat (Antraknosa)

Penyakit bercak cokelat disebabkan oleh cendawan Colletotrichum Lindemuthianum (Sacc, et Magn) Bri et Cay. Cendawan tersebut menyerang batang, tangkai daun, daun, polong dan biji. Cendawan Colletotrichum Lindemuthianum dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman sakit, pada biji yang terinfeksi, dan pada bermacam-macam tanaman kacang-kacangan.

Penyebaran cendawan tersebut melalui air yang memercik. Hal ini karena konidium cendawan terikat dalam massa lendir. Cendawan Colletotrichum Lindemuthianum dapat berkembang balk pada kondisi cuaca basah dan sejuk dengan suhu udara berkisar antara 17°C-22°C.

Tanaman kacang hijau yang diserang penyakit antraknosa timbul bercak-bercak tidak teratur berwarna cokelat pada batang. Bercak-bercak tersebut akan menyebar pada tangkai daun dan polong. Selain itu, daun-daun juga tampak menggulung dan rontok.

Pada daun juga timbul bercak-bercak yang memanjang. Pada polong yang terinfeksi timbul kanker hitam melekuk dengan bagian tengah berwarna kemerahan. Biji yang terinfeksi juga timbul bercak-bercak berwama cokelat. Jika biji yang terinfeksi ditanam, maka biji tersebut tidak akan tumbuh (kecambah mati).

Penyakit antraknosa juga menyerang tanaman muda (semai). Pada semai yang terinfeksi timbul bercak mengendap pada keping biji dan batang muda. Serangan yang berat menyebabkan semai mati, karena titik tumbuh telah rusak.

Pencegahan dan pengendalian penyakit antraknosa dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
  • b. Tidak dianjurkan menanam kacang hijau secara berturut-turut.
  • c. Menanam dengan jarak tanam yang lebih lebar.
  • d. Menanam biji yang sehat.
  • e. Membersihkan sisa-sisa tanaman mati, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • f. Mencabut tanaman yang sakit berat dan membakarnya.
  • g. Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif benomil (Masalgin 50 WI), Benlate).

5. Penyakit Karat Daun

Penyakit karat daun pada tanaman kacang hijau disebabkan oleh cendawan karat Uromyces Appendiculatus (Pers) link. Cendawan tersebut dapat menginfeksi banyak tanaman kacang-kacangan. Penyakit karat daun mudah berkembang pada suhu udara berkisar antara 16°C-24°C.

Penyebarannya dibantu oleh angin, percikan air hujan atau embun. Tanaman kacang hijau yang diserang penyakit karat daun ditandai dengan adanya bintik-bintik pucat yang kemudian berkembang menjadi bisul bulat kecil berwarna cokelat kemerahan menyerupai karat.

Bercak dan bisul tersebut ditemukan pada bagian sisi bawah daun maupun bagian sisi atas daun. Penyakit karat daun menyebabkan daun menguning, mengering, keriput, dan akhirnya rontok.

Pencegahan dan pengendalian penyakit karat daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dari jenis kacang-kacangan.
  • b. Menanam varietas yang tahan penyakit karat, misalnya varietas Manyar dan Nuri.
  • c. Mencabut tanaman yang sakit parah, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • d. Sanitasi kebun.
  • e. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • f. Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif Klorotalonil (Agrisan 60 WP, Dacoml 500 F, Oktanil 75 WP), berbahan aktif Maneb (Rhoneb 80 Wp, Redhos WP, Velimek 80 WP, Phycozan 70 WP, Trineb 80 WP), berbahan aktif Zineb (Tropicol 82 WP, Tiezone 80 WP, Rhedos 70/12WP), atau yang berbahan aktif Oksikarboksin (Plantvax 190 EC).

6. Penyakit Bercak Sclerotium

Penyakit bercak Sclerotium merupakan penyakit batang layu. Penyebabnya adalah cendawan Sclerotium roffisii sacc. Cendawan tersebut dapat bertahan hidup sampai berbulan-bulan hingga beberapa tahun di dalam tanah. Faktor yang mendukung berkembangnya cendawan Sclerotium rolfisii adalah kondisi suhu tanah yang berkisar antara 21°C-33°C, kelembaban tanah yang tinggi lebih dari 80%, dan tanah yang kaya nitrogen tetapi miskin kalium.

Bagian tanaman yang diserang cendawan Sderotium rolfisii adalah pangkal batang (leher batang), tangkai daun, dan polong. Tanaman muda yang berumur 2-3 minggu Iebih peka diserang cendawan Sclerotium roffisii.

Infeksi cendawan Sclerotium roffisii pada pangkal batang menyebabkan rusaknya berkas pembuluh pengangkutan sehingga tanaman menjadi layu dan mati. Tanaman Kacang Hijau yang diserang cendawan Sclerotium roffisiimula-mula dicirikan oleh adanya lapisan berwama putih yang menyerupai rambut-rambut atau bulu pada pangkal batang tanaman dan pada permukaan tanah di sekitar batang.

Lapisan putih tersebut adalah massa miselium cendawan. Dalam perkembangannya, miselium tersebut membentuk sklerotium yang berwama putih kotor dan kemudian berubah menjadi coklat seperti biji sawi. Pangkal batang yang diserang cendawan akan membusuk dengan sekeliling pangkal batang berwarna coklat.

Selanjutnya tanaman layu secara tiba-tiba dan menguning perlahan-lahan. Penyakit ini juga sering disebut sebagai penyakit busuk pangkal batang. Infeksi cendawan pada kecambah atau semai menyebabkan penyakit rebah semai (damping oft). Infeksi cendawan pada polong menyebabkan busuk polong.

Cendawan tersebut juga menginfeksi daun-daun bawah dengan menampakkan gejala pangkal anak daun berwarna hijau kelabu kebasah-basahan.

Penyebaran atau penularan cendawan (Sclerotium roffisii) dapat melalui peralatan pertanian, manusia, serangga, air, angin, cacing (nematoda), biji, tanaman yang dipindahkan, dan melalui penggunaan pupuk kandang yang belum sempurna proses pelapukannya, cendawan (Sclerotium rottisii) selain menyerang tanaman Kacang Hijau, juga menyerang tanaman cabe, kacang tanah, kacang panjang, buncis, tomat, sawi. Tanaman yang berumur 2-3 minggu paling rawan diserang cendawan ini.

Pencegahan dan pengendalian penyakit layu sclerotium dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pengolahan tanah yang intensif (sempurna).
  • b. Perbaikan drainase (pengeluaran air).
  • c. Penanaman dengan jarak tanam lebih lebar.
  • d. Mencabut tanaman yang sakit, lalu membakarnya.
  • e. Fumigasi tanah dengan Basamid 3G.
  • f. Menyiram larutan fungisida di sekitar batang tanaman. Misalnya, Anvil 50 SC, Derosal 60 W19 Benlate, dan lain sebagainya.
  • g. Penyemprotan fungisida yang berbahan aktif mankozeb 80%, tembaga oksiklorida 59,5%, atau karbendazim 6.2% + mankozeb 73.8%.
  • h. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya.
  • i. Merendam benih dengan Agrimycin atau Agrept selama 5-15 menit.
  • j. Menanam benih yang sehat. k. Mensterilkan peralatan yang akan dipergunakan ke dalam larutan formalin s- elama 10 m- enit atau dipanaskan dengan api selama beberapa menit. I. Menggunakan pupuk kandang yang baik.

Baca Juga : Cara Menanam Kacang Panjang Terlengkap


7. Penyakit Bisul Daun (Penyakit Bakteri )

Penyakit bisul daun disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv.phaseoli. Bakteri ini dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman sakit dan dalam biji. Faktor yang mendukung berkembangnya bakteri ini adalah cuaca yang basah dan suhu yang tinggi (300C-35°C).

Penyebaran bakteri dapat terjadi melalui percikan air hujan, terutama hujan yang disertai angin kencang, daun yang saling bersinggungan, dan peralatan pertanian yang terkontaminasi bakteri. Infeksi bakteri pada tanaman melalui mulut kulit, hidatoda atau pori-pori tempat keluarnya tetesan-tetesan air yang terdapat pada tepi daun, dan melalui luka-luka.

Tanaman kacang hijau yang diserang penyakit bisul bakteri dicirikan oleh adanya bercak kecil berwarna hijau kekuningan dengan bagian tengah agak menonjol. Bercak dapat berkembang menjadi lebih besar dan pada bagian tengah bercak pada sisi bagian bawah daun timbul tonjolan (bergabus dan kasar) berwarna coklat muda.

Bercak-bercak dapat bersatu menjadi bercak yang besar yang tidak teratur. Perkembangan selanjutnya bercak akan mengering dan daun menjadi robek-robek. Infeksi bakteri pada polong menyebabkan terjadinya bercak kecil berwarna coklat kemerahan. Pencegahan dan pengendalian penyakit bisul daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan dad jenis kacang-kacangan.
  • b. Menanam benih yang sehat.
  • c. Menanam varietas yang tahan terhadap penyakit bisul daun.
  • d. Menimbun atau membakar sisa-sisa tanaman sakit atau sisa-sisa tanaman setelah panen.
  • e. Memangkas daun-daun yang terserang, kemudian dikumpulkan dan dibakar.

8. Penyakit Mozaik

Penyakit mozaik pada kacang hijau disebabkan oleh virus. Diantaranya disebabkan oleh virus mozaik kacang hijau (Mungbean Mosaic Virus), virus mozaik kuning buncis (Bean Yellow Mosaic Virus), dan virus bangkas kacang hitam (Black Gram Mottle Virus).

Pada umumnya penyakit mozaik ditandai dengan terjadinya gejala belang klorotik, yaitu belang-belang bewarna hijau muda atau kuning yang tersebar pada daun. Daun yang terinfeksi menjadi tidak rata dan berubah bentuknya, dan tepi daun menggulung ke bawah.

Penyakit mozaik menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, cabang-cabang sedikit, bunga yang terbentuk sedikit, pembentukan dan pemasakan polong lambat, dan polong berukuran kecil-kecil.

Penyebaran virus tersebut diatas dapat melalui biji dari tanaman yang sakit, serangga vektor (kutu daun, Aphis Craccivora, dan Aphis Glycines). Virus tersebut juga dapat bertahan hidup pada bermacam-macam jenis tanaman kacang-kacangan.

Pencegahan dan pengendalian penyakit mosaik dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Menanam benih yang sehat dari tanaman yang sehat.
  • b. Tanaman yang sakit dicabut dan dibakar.
  • c. Pergiliran tanaman dengan tanaman selain kacang-kacangan.
  • d. Mengendalikan serangga vektor (serangga penular) dengan penyemprotan insektisida.

9. Penyakit Sapu (Witches Broom)

Penyakit sapu disebabkan pleb jasad yang mirip Mycoplasma, yaitu sekelompok jasad renik yang berukuran sangat kecil dan mirip dengan bakteri. Mycoplasma memiliki sifat yang berada di antara virus dan bakteri.

Tanaman yang diserang penyakit sapu dicirikan oleh daun yang berukuran kecil-kecil, ruas-ruas yang pendek, berkembangnya tunas-tunas ketiak sehingga tanaman berbentuk seperti sapu.

Selain itu, daun bewama lebih tua dari warna normal, dan mempunyai bunga-bunga yang mahkotanya berubah menjadi daun-daun kecil berwama hijau. Penyakit sapu juga menyerang bermacam-macam jenis tanaman kacang-kacangan lain.

Penyakit ini dapat ditularkan oleh wereng (Orosius orgentatus Evans) dan penyakit tidak dapat ditularkan secara mekanis dan juga tidak dapat ditularkan melalui biji (Anonim, 1985).

Pencegahan dan pengendalian penyakit sapu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Penanaman kacang hijau bertutut-turut harus dihindari.
  • b. Pergiliran tanaman dengan tanaman selain kacang-kacangan.
  • c. Mencabut tanaman yang sakit dan membakarnya.
  • d. Sanitasi kebun.
  • e. Mengendalikan serangga penular dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif Karbofuran (Furadan 3 G, Taburan 3 G, Curaterr 3 G), berbahan aktif Fenobcarb (Bassa 500 EC, Baycarb 500 EC, Dharmabas 500 EC, Karbasin 500 EC).

Tinggalkan Balasan