Mengenal Tanaman Cabe

Budidaya Cabai Mengenal Tanaman Cabe  Hingga saat ini masyarakat di Indonesia menyukai sambal sebagai pendamping lauk makanan sehari-hari. Cita rasa pedas yang ditimbulkannya mampu menambah nafsu dan selera makan.

Sejak cabe dikenal luas oleh masyarakat, hampir setiap makanan di Indonesia menyertakan cabe sebagai bumbu masak. Tanaman cabe sudah berabad-abad ditanam di Indonesia.

Tanaman yang tergolong perdu ini memiliki banyak ragam bentuk dan tipe pertumbuhan. Bentuk buahnya bervariasi. mulai dari bulat, lonjong, hingga panjang, dengan ukuran kecil sampai besar.Variasi juga terdapat pada warna buah cabe. Ada yang berwarna merah, ungu, hijau, kuning, dan putih. Mengenal Tanaman Cabai

Asal dan Pengelompokan Tanaman Cabe

mengenal tanaman cabe

Berbagai bentuk, ukuran, dan warna cabai. Bumbu masak yang memiliki rasa pedas ini menambah selera makan.

Tanaman cabe berasal dari bagian tropis dan subtropis Benua Amerika, khususnya Kolombia, Amerika Selatan. Selanjutnya tanaman tersebut menyebar ke Amerika Latin.

Penggunaan tanaman cabe oleh masyarakat Indian telah dilakukan sejak dahulu kala. Hal ini diketahui setelah Christhoper Columbus mendapati Benua Amerika sekitar tahun 1492. Kala itu ia berlabuh di Pantai San Salvador dan menemukan banyak rempah-rempah, termasuk cabe.

la membawa biji cabe ke negara asalnya, Italia. Sejak saat itulah cabe tersebar ke berbagai penjuru bumi.Adapun yang berperan dalam penyebaran cabe ke seluruh dunia, termasuk negara-negara di Asia, seperti Indonesia adalah pedagang Spanyol dan Por-tugis.

Tanaman cabe termasuk famili Solanaceae, genus Capsicum. Capsicum annum L. merupakan salah satu spesies dan 20-30 spesies dalam genus tersebut.

Spesies ini paling luas dibudidayakan dan penting secara ekonomi. Capsicum annum diperkirakan mempunyai pusat asal di Meksiko, kemudian menyebar ke daerah Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Eropa.

Kini spesies tersebut tersebar luas di daerah tropis dan subtropis. Adapun pusat penyebaran sekunder C. annum, yaitu Guatemala.

C annum L dikelompokkan dalam var longum, var abbreviata, var grearn, dan var minimum. Selain C. annum, spesies lain yang dibudidayakan adalah C. fnlescens, C. baccatum, C. pLtescens, dan C. chinense. C. baccatum dan C. pLibesoens mudah diidentifikasi dan dibedakan [(arena terclapat perbedaan yang jelas.

Baca Juga : 4 Jenis Jenis Cabe Budidaya

Selalu Diburu dan Diminati Setiap Saat

Cabe merupakan komoditas sayuran yang penting dan bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Hal tersebut terbukti dari luas lahan pertanaman cabe yang mencapai 20% dari total pertanaman sayuran di seluruh Indonesia.

Selain itu, manfaat dan kegunaan cabe tidak dapat digantikan oleh komoditas lainnya. Buah cabe yang tidak tahan lama dan selalu dikonsumsi segar membuatnya harus tersedia setiap saat.

Itulah sebabnya setiap saat permintaan dan kebutuhan cabe selalu tinggi. Tidak hanya berfungsi sebagai bahan pangan, cabe merupakan bahan baku industri saat ini.

Kebutuhan cabe per kapita di Indonesia sangat fluktuatif dari tahun ke tahun. Jumlah konsumsi cabe terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya. Konsumsi per ‘capita cabe, cenderung meningkat 1,35 kg pada tahun 2003 menjadi 3,28 kg pada tahun 2007.

Setiap hari cabe menjadi buruan para konsumen, baik di pasar tradisional maupun di swalayan. Kebutuhan dan permintaan cabe cenderung meningkat menjelang bulan puasa dan hari-hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru.

Tak hanya itu, cabe kini menjadi komoditas primadona bagi para industri pengolahan makanan, seperti saus dan samba! dalam kemasan. Sejak tahun 2005 telah dibangun kemitraan petani dengan industri saus tertentu yang slap menampung produk cabe segar para petani.

Tahun 2008 pasokan per hari ke industri tersebut mencapai 70 ton cabe besar merah, 15 ton cabe keriting, dan 10 ton cabe rawit. Kini kebutuhan bahan baku industri tersebut per hari mencapai 100 ton cabe besar, 20 ton cabe keriting, dan 15 ton cabe rawit.

Hal tersebut mendorong meningkatnya minat para petani untuk menanam cabe.Tak heran bila luasan lahan pertanaman cabe meningkat setiap tahunnya.

Meningkatkan Produksi Cabe Di Indonesia

Saat musim hujan, produksi cabe cenderung menurun sehingga langka, Di mana biasanya pada saat musim hujan tanaman cabai sangat rentan sekali terserang oleh penyakit.

Hal ini mengakibatkan harga cabe meroket mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram. Kenaikan harga bisa juga diakibatkan oleh kenaikan harga saran produksi, seperti pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan sewa lahan.

Untuk mengurangi pengaruh negatif dari falctor iklim, budidaya cabe bisa dilakukan di dalam rumah tanaman. Produktivitas cabe besar tahun 2014 sebesar 8,35 ton per ha, sedangkan cabe rawit sebesar 5,93 ton per ha.

Produktivitas ini masih rendah, dibandingkan dengan potensinya yang dapat mencapai 20-30 ton per ha. Penurunan harga umumnya disebabkan oleh ketersediaan komoditas cabe di pasar yang melimpah.

Kondisi tersebut terjadi akibat waktu panen yang bersamaan (panen raya) dan petani secara serentak menjual hasil panennya. Pengetahuan mengenai pascapanen dan pengolahan cabe sangat diperlukan. Untuk mengatasi permintaan dan kebutuhan cabe yang semakin meningkat, perlu dilakukan suatu usaha agar dapat memproduksi cabe dalam skala besar maupun rumah tangga.

Agar cabe dapat tersedia setiap saat, panen cabe harus rutin setiap hari. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengaturan sistem tanam. Pengaturan sistem tanam sebaiknya didukung oleh pengetahuan tentang budidaya cabe di musim hujan maupun musim kemarau.

Tujuannya agar dapat menjamin ketersediaan buah cabe setiap hari yang berkualitas tinggi. Dengan demikian, panen cabe tiap hari dapat mengatasi fluktuasi harga cabe yang tinggi dan menguntungkan setiap pihak termasuk para petani dan industri pengolahan cabe.

Baca Juga : Varitas Unggul Cabai

Tinggalkan Balasan