Hama Pada Tanaman Kacang Hijau

Hama Pada Tanaman Kacang Hijau – Produktivitas tanaman kacang hijau dapat menurun bila tanaman diserang hama dan penyakit. Penurunan produksi yang diakibatkan oleh serangan hama dan penyakit dapat ditekan sekecil mungkin dengan melakukan pengendalian yang intensif dan teratur.

Dari mulai tanam sampai dengan tanaman menjelang panen. Pada umumnya hama yang menyerang tanaman kacang hijau sari golongan serangga.

Sedangkan penyakit yang sering clijumpai menyerang tanaman kacang hijau dari golongan jamur (cendawan), bakteri, dan virus. Hama-hama dan penyakit perusak polong dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 60%, bahkan pada tingkat serangan yang sangat berat menyebabkan tanaman tidak berproduksi.

Silahkan Baca Juga : Cara Menanam Kacang Hijau Dan Tips Perawatannya

Hama Tanaman Kacang Hijau

hama kutu daun

Contoh hama kutu daun

Hama-hama penting yanng menyerang tanaman kacang hijau diketahui ada 15 species hama serangga, yaitu hama yang ditemukan pada batang adalah lalat bibit (Ophiomyia Phaseoli Tryion), lalat kacang (Melanagromyza Sojae Zehntner).

Hama yang ditemukan menyerang daun adalah kutu (Aphis Craccivora Koch), kumbang tanah (Longitarsus Sp), ulat grayak (Spodoptera Litura F), ulat jengkal (P/usia Cha/cites), ulat penggulung daun (Lamprosema Indicata F), belalang (Oxyia Spp), wereng daun (Bemisia Tabaci Genn), wereng (Empoasca Sp).

Hama yang ditemukan menyerang polong adalah pengisap polong, yaltu kepik hijau (Nezara Viridula L), pengisap polong (Piezodorus Hypnen), dan kepik coklat (Riptortus Linearis F), penggerek polong, yaltu penggerek polong (Maruca Spp), Heliothis Armigera Hubner, dan Ella Spp.

Baca Juga : Penyakit Kacang Hijau Dan Cara Mengatasinya

1. Lalat Bibit (Ophiomyia Phaseoii Tryion)

Serangga dewasa berupa lalat berwarna hitam mengilap dan tubuh berukuran kecil. Lalat betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Siklus hidup lalat kacang berkisar antara 3-4 minggu. Lalat kacang menggerek batang dan pucuk hingga menyebabkan rusaknya batang dan pucuk tanaman.

Stadium yang menyerang tanaman adalah larva (belatung /ulat). Pada tanaman muda yang diserang, larva mengerek keping biji dan memakannya, lalu masuk ke tangkai daun, ke dalam batang hingga ke pangkal akar tanaman muda.

Akibat serangan lalat kacang, tanaman menjadi layu, daun-daun menguning dan rontok. Tanaman muda yang diserang lalat kacang keping bijinya atau daun pertamanya tampak berbercak-bercak coklat sampai hitam.

Gejala lebih lanjut akan tampak Hang gerekan pada bagian tanaman yang diserang. Pupa atau kepompongnya berada di pangkal akar atau di dalam batang.

Pencegahan daan pengendalian lalat kacang dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Penanaman serempak, yaitu penanaman dalam satu hamparan yang luas dengan waktu tanam yang bersamaan. Sehingga dengan demikian, kerusakkan yang ditimbulkan oleh lalat ini tidak sampai pada kerusakan yang melampaui batas ambang ekonomi. Karena perbandingan jumlah makanan jauh lebih banyak dengan ulat yang menyerangnya.
  • b. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang lalat kacang, antara lain kedele, kacang tanah, kacang panjang, buncis, dan jenis kacang-kacangan lainnya.
  • c. Penanaman menggunakan sistem mulsa plastik hitam perak atau mulsa jerami padi.
  • d. Desinfektan benih menggunkan insektisida berbahan aktif karbosulfan, misalnya Marshal 25 ST, Marshal 200 EC, Marshal 10 Ca atau Marshal 5 a desinfektan tanah dengan insektisida berbahan aktif karbofuran, misalnya Furadan 3 a Petrofur 3 G, Tomafur 3 G.
  • e. Penyemprotan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Cypermethrin, misalnya Crowen 113 EC, berbahan aktif isoksation, misalnya Karphos 25 EC, berbahan aktif Klon7uazuron, misalnya Atabron 50 EC, Atabron 25 ULV, berbahan aktif Klorpirifos, misalnya Dursban 20 EC, Lentrek 400 EC, Petroban 200 EC, Profos 400 EC.

2. Lalat Kacang (Melanogromyza Spp)

Serangga dewasa berupa lalat berwarna hitam mengkilap: dan tubuh berukuran kecil. Lalat betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Larva atau ulatnya kekuning-kuningan.

Larva Bari lalat kacang ini mengerek batang. Tanaman yang diserang umumnya tanaman yang masih muda. Lalat betina bertelur pada keping-keping biji diantara epidermis atas dan diantara epidermis bawah yang baru berkecambah dan daun di bagian dekat dengan pangkal helai daun. Telur akan menetas menjadi larva (ulat). Selanjutnya, ulat-ulat merusak pangkal batang tanaman.

Akibatnya serangan ulat kacang, tanaman menjadi layu, daun menguning, dan akhirnya mati. Hal ini karena pembuluh pengangkatan telah rusak dan tanaman tidak mampu lagi menyerap air dan zat Kara. Apabila kerusakannya ringan, tanaman akan tumbuh kerdil.

Pencegahan dan pengendalian lalat kacang dapat clilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Bull daya menggunakan mulsa jerami. Sehingga dengan demikian lalat tidak bisa masuk atau bertelur pada keping-keping biji.
  • b. Mencabut tanaman yang terserang berat, lalu membakarnya.
  • c. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang lalat kacang, antara lain buncis, keclele, kacang hijau, kacang gude, kacang panjang, padi, jagung.
  • d. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • e. Penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif Cypermethrin, misalnya Crowen 113 EC, berbahan aktif Imidakloprid, misalnya Confidor 200 SL, Con fidor 5 WP, Premise 200 SL, berbahan aktif Sipermetrin, misalnya Arrivo 30 EC, Gym bush 50 EC, Crown 100 EC, Bravo 50 EC.
  • f. Desinfektan benih menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan, misalnya Marsha! 25 ST, Marsha! 200 EC, Marshal 10 CG, Marshal 5 g; Desinfektan tanah dengan insektisida berbahan aktif karbofuran, misalnya Furadan 3 G, Petrofur 3 G, Tomafur 3 G.

Silahkan Baca Juga : Mengenal Tanaman Kacang Hijau


3. Kepik Hijau (Neraza Viridula L)

Kepik hijau dewasa tubuhnya berwarna hijau, berbentuk segi lima seperti perisai, panjang tubuh 1 cm, dan kepala bersungut. Kepik hijau, tubuhnya ada juga yang berwama kuning kehijauan dan dipunggungnya terdapat tiga bintik berwama hijau. Kepik muda (nimfa) memiliki warna tubuh berbeda-beda sesuai dengan perkembangan instamya.

Pada mulanya berwama coklat muda, kemudian berubah menjadi hitam, dan berbintik-bintik putih dan selanjutnya warnanya berubah menjadi hijau polos (instar pertama), dan pada instar terakhir, tubuhnya berwama hijau tua dan berbintik-bintik hitam dan putih. Kepik betina dewasa bertelur pada batang, daun dan polong.

Kepik hijau dewasa mengisap cairan polong muda maupun polong tua. Polong muda yang diserang kepik hijau menjadi pipih, tidak berisi, keriput, berbecak-becak hitam dan akhimya polong muda gugur.

Polong tua yang diserang kepik hijau mengakibatkan biji yang hampir masak menjadi keriput, berbintik-bintik cokiat, busuk dan rasanya pahit. Kepik hijau juga menyerang daun (mengisap cairan daun).

Daun yang diserang kepik hijau muda maupun dewasa menjadi berbintik-bintik dan mengakibatkan daun-daun dan tunas layu, kemudian mati, atau pertumbuhan tanaman menjadi tidak sempuma, serangg a ini mengeluarkan racun liur yang dapat menyebabkan tanaman muda layu dan mati.

Pencegahan dan pengendalian kepik hijau (Nazara Visidula) dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Sanitasi kebun, yaitu membersihkan kebun dari rumput dan gulma, serta sisa-sisa tanaman mati.
  • b. Dengan menyebarkan musuh alaminya, misalnya Anastatus Sp, Gryon sp, Ooencyrtus malayensis, atau Talenomus sp, yang dapat memangsa telur kepik hijau.
  • c. Memangkas daun yang mernjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • d. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang kepik hijau adalah kacang-kacangan, pack kapas, jeruk, tembakau, kentang, cabe.
  • e. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Zolone 35 EC, Corsair 10 EC, Surecide 25 EC, Matador, Crowen 113 EC.
  • f. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.

4. Kepik Coklat (Riptortus linearis L)

Kepik coklat dewasa, bentuk tubuh dan warna tubuh mirip dengan walang sangit. Tubuhnya berwarna coklat dengan garis putih kekuningan di sepanjang tubuhnya. Telur kepik coklat berwarna biru keabu-abuan, dan biasanya terdapat dipermukaan daun bagian bawah secara berkelompok.

Kepik coklat dewasa maupun mimfanya menghisap polong muda maupun polong tua dan merusak seluruh stadium pertumbuhan tanaman.

Polong muda yang diserang kepik coklat menjadi pampa (tidak membentuk biji), sedangkan polong tua yang terserang, bijinya menjadi keriput dan berbintik-bintik hitam karena cairan biji telah dihisap. Polong yang diserang kepik coklat berbercak-bercak coklat kehitaman.

Pencegahan dan pengendalian kepik coklat (Riptortus linearis.L) dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Sanitasi kebun.
  • b. Penanaman serempak, yaitu penanaman dalam satu hamparan yang luas dengan waktu tanam bersamaan. Dengan demikian kerusakan yang ditimbulkan oleh kepik coklat tidak sampai pada kerusakan yang melampaui batas ambang ekonomi. karena perbandingan jumlah makanan jauh lebih banyak dengan kepik coklat yang menyerangnya.
  • c. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang kepik cokiat adalah kacangan-kacangan.
  • d. Menangkapi kepik pada pagi hari antara jam 06.00-09.00 WIB, lalu membunuhnya.
  • e. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Zolone 35 EC, Surecide 25 EC, Corsair 10 EC, Marshal 20 EC, Crowen 113 EC, Mipcin 50 WP (insektisida berbahan aktif Josalon, Pemetrin, Karbosulfan, Cypermethrin).

5. Ulat Jengkal (Plusia Chalcites Esperl Chrysodeixis Chalcites Esper)

Ulat jengkal memiliki beberapa nama claerah, yaitu ulat lompat, ulat kilan, ulat jengkal semu, dan ulat keket. Ulat jengkal tubuhnya berwarna hijau dan terdapat garis berwarna lebih muda pada sisi sampingnya, dan panjang tubuhnya sekitar 2 cm. Ciri khas ulat jengkal adalah bila berjalan melompat atau melengkungkan tubuhnya.

Ulat jengkal memakan daun, balk daun yang muda maupun daun yang tua. Di samping itu, ulat ini dapat juga menyerang bagian yang lainnya yang lunak seperti pucuk tanaman dan polong muda.

Daun yang diserang ulat jengkal berlubang-lubang tidak beraturan, selanjutnya tinggal tersisa tulang-tulang daunnya saja. Pada tingkat serangan yang berat, daun-daun akan habis.

Pencegahan dan pengendalian ulat jengkal dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Sanitasi kebun.
  • b. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang ulatjengkal adalah kacang-kacangan, kentang, tembakau, kubis.
  • c. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • d. Memunguti ulat, lalu membunuhnya.
  • e. Memotong daun yang menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • f. Dengan menyebarkan musuh alaminya, misalnya Apanteles sp atau Litomastik sp. g. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Decis 2,5 EC, Cymbush 50 EC, Curacron 500 EC (insektisida berbahan aktif Sipermetrin, profenofos).

6. Ulat Grayak (Spodoptera HturalProdenla Iltura)

Ulat grayak yang masih muda berwama kehijauan, sedangkan ulat dewasanya berwama kecokiatan atau abu-abu gelap, dan berbintik-bintik hitam serta bergaris-garis keputihan. Ulat grayak berumur 20 hari, kemudian menjadi kepompong yang berwarna cokiat kemerahan, kepompong tersebut berada didalam tanah.

Ulat grayak memakan daun dan polong-polong yang masih muda. Daun yang diserang ulat grayak berlubang-lubang, dan menjadi robek-robek. Pada serangan berat, daun tinggal tulangnya saja dan polong berlubang-lubang. Ulat grayak menyerang tanaman pada malam hari.

Pada slang hari, ulat grayak bersembunyi di dalam tanah atau ditempat-tempat teduh seperti dibalik daun. Ulat grayak memiliki kemampuan merusak tanaman kacang hijau sangat besar.

Seekor ulat dewasa yang hidup pada tanaman umur 1-2 minggu dapat menyebabkan tanaman tidak berbuah sama sekali.

Pencegahan dan pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Dengan penggenangan sesaat akan membunuh ulat yang berada di dalam tanah, genangan air menyebabkan ulat tidak dapat bernafas dan mati.
  • b. Sanitasi kebun.
  • c. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas. d. Memangkas daun yang menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • e. Dengan menyebarkan musuh alaminya, seperti Bacillus thuringiensis, Borrelinavirus litura.
  • f. Memunguti ulat, lalu membunuhnya.
  • g. Menangkap kupu-kupunya dengan menggunakan perangkap lampu minyak yang dibagian bawahnya diberi baskom yang berisi air dan minyak tanah.
  • h. Pengolahan tanah yang intensif dapat membunuh kepompong dan ulat yang bersembunyi di dalam tanah.
  • i. Dengan penyemprotan insektisida, misalnya Curacron 500 EC, Matador, Decis 2,5 EC, Catleya 500 EC, Turex WP atau Crowen 113 EC ( insektisida berbahan aktif Profenofos, Lamida Sihalotrin, Deltametrin, Cypermethrin, Bacillus Thuringiensis Varietas Aizawai Strain GC 91).
  • j. Dengan menggunakan perangkap feromoid sex. (sex pheromone). Misalnya dengan ugratas biru yang dipasang dalam botol plastik volume 500 ml atau 1000 ml, untuk lahan seluas 1 hektar tanaman Kacang Hijau dapat dipasangi 15 botol.

7. Ulat Penggerek Polong (Etiella zinckenella)

Ulat penggerek polong yang masih muda berwarna hijau pucat, sedangkan ulat dewasa berwarna kemerah-merahan dan kepalanya berwarna hitam. Ulat memiliki bentuk tubuh silindris dan panjangnya sekitar 1,5 cm. Ulat berkepompong di dalam tanah. Ulat ini hidup di dalam polong dan memakan biji-biji kacang hijau.

Ulat polong (Etiella zinckenella) menyerang polong yang masih muda maupun yang sudah tua. Polong kacang hijau yang diserang ulat polong tampak diselubungi benang-benang putih. Bila selubung benang disingkap akan tampak polong sudah berlubang dan tampak pula ulat hijau penuh dengan kotoran berwarna hijau.

Akibat serangan ini polong muda tidak berkembang dan banyak yang rontok. Demikian pula biji-bijinya berlubang dan rusak karena termakan ulat.

Pencegahan dan pengendalian that polong (Etiella zinckenella). Dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pengolahan tanah yang intensif dapat membunuh kepompong yang berada di dalam tanah.
  • b. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • c. Polong yang terserang ulat dipangkas, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • d. Pergiliran tanaman dengan tanaman selain tanaman kacang-kacangan.
  • e. Penyemprotan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif BPMC, Sipemetrin, Klorfluazuron, misalnya Cymbush 50 EC, Boyrusil 250 EC, Atabron 50 EC, Bassa 500 EC, Dimaside 400 EC. Penyemprotan dilakukan pada waktu pembentukan polong.

8. Ulat Polong (Helicoverpa armigera hubn)

Ulat polong (Helicoverpa armigera hubn) memiliki ciri-ciri: tubuhnya tertutup banyak kutil dan bulu, warnanya beraneka ragam (ada yang berwarna hijau kekuningan, coklat tua, coklat muda, ungu, hijau, atau agak hitam). Ulat muda berwarna putih agak kekuningan dan kepalanya berwarna hitam.

Ulat akan menjadi kepompong setelah berumur 17-24 Ilan, kepompongnya berwarna coklat atau kemerahan, dan berada dalam tanah. Ulat yang baru menetas akan memakan daun. Setelah instar 3, ulat mulai menyerang polong. Polong kacang hijau yang diserang ulat ini pada bagian ujung atau dekat ujung polong berlubang.

Lubang tersebut terdapat kotoran ulat. Lubang yang terdapat dalam polong dapat lebih dari satu lubang. Akibatnya polong tumbuh tidak normal dan dapat membusuk karena infeksi sekunder dari organisme lain (bakteri).

Pencegahan dan pengendalian ulat polong dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang ulat ini adalah jagung, kentang, asparagus, tomat, buncis, terung, tembakau, kapas, kacang-kacangan, tanaman sayuran.
  • b. Memetik polong yang telah diserang ulat dan dihancurkan.
  • c. Sanitasi kebun.
  • d. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas. e. Memunguti ulat dan kepompong, lalu membunuhnya.
  • f. Dengan menyebarkan musuh alaminya, seperti Microplitis manilae (pemakan kepompong dan ulat), Diadegma argentiopilosa (pemakan ulat), Trichogramma mana dan Trichogramma evarescens (pemakan telur).
  • g. Penyemprotan insektisida, misalnya Bayrusil 250 EC, Sumicidin 5 EC, Decis 2,5 EC, Curacron 500 EC, Ambush 2 EC, Fenvea! 200 EC, Crowen 113 EC, Turex WP.

9. Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicata)

Ulat penggulung daun (Lamprosema indicata) tubuhnya berwarna kehijauan (hijau terang) dengan garis-garis kuning sampai putih buram. Kepalanya berwarna kuning muda mengkilap. Ulat ini hidup didalam gulungan-gulungan daun muda hingga menjadi kepompong.

Daun kacang hijau yang diserang ulat ini tampak menggulung. Ulat terdapat di dalam gulungan daun yang dilindungi oleh benang-benang sutera dan kotoran. Beberapa polong kacang hijau yang dekat dengan daun akan ikut terikat bersama-sama dengan daun.

Daun yang diserang juga tampak berlubang-lubang dan tepinya terdapat bekas gigitan. Pada serangan berat, helaian daun habis dimakan.

Pencegahan dan pengendalian ulat penggulung daun (Lamprosema indicata) dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang ulat Lamprosema indicata adalah kacang-kacangan (buncis, kacang tanah, kacang hijau, kacang hijau, kapri, kacang panjang, kacang gude).
  • b. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas
  • c. Memangkas daun-daun yang terserang, dan daun yang ada telurnya dibakar.
  • d. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Nogos 50 EC, Ambush 2 EC, Crowen 113 EC, Matador 25 EC.
  • e. Menyebarkan musuh alaminya berupa parasitoid larva seperti Apanteles sp.

10. Jenis Kutu

Jenis kutu yang sering menyerang tanaman kacang hijau adalah kutu hijau (Aphis craccivora), kutu kebul (Bemisia tabaci gennadius), wereng (empoasca), dan kutu trip (Thrips Sp).

Kutu hijau memiliki ciri-ciri: tubuh berukuran kecil, berwarna hijau kekuningan. Kutu ini hidup berkelompok dipucuk-pucuk tanaman. Larva kutu hijau menghisap cairan sel tanaman.

Kutu hijau menyebabkan tumbuhnya cendawan jelaga yang berwarna hitam yang menutupi permukaan daun dan polong muda. Tanaman muda yang terserang menjadi kerdil, daunnya menguning, dan akhirnya gugur.

Apabila serangan terjadi pada stadia pembungaan, pembentukan polong dan biji, maka bunga akan gugur, polong dan biji tidak bisa berkembang dengan baik.

Kutu kebul memiliki ciri-ciri: tubuh berukuran kecil, berwarna keputihan sampai kekuningan, memiliki sayap yang transparan dan tertutup tepung Jilin berwama putih. Nimfa atau larva berbentuk oval pipih, berwarna kuning pucat sampai kuning kehijauan. Nimfa umumnya melekat pada permukaan daun bagian bawah.

Hama ini menghisap cairan tanaman. Tanaman yang diserang kutu kebul terdapat bercak nekrotik pada permukaan daun. Kutu kebul juga menyebabkan tumbuhnya cendawan jelaga yang menutupi permukaan daun.

Tanaman inang kutu kebul sangat banyak, antara lain famili compositae (aster, bunga matahari, dahlia, hebras, bunga kertas, kenikir, kosmea, senecio, solidago), cucur bitacea (bligu, melon, mentimun, semangka, labu air, labu siam, pare, gambas), cruciferae (brokoli, kubis, lobak, sawi, kailan), solanaceae (cabe, kentang, tomat, kecubung, terung), dan leguminoceae (kacang-kacangan).

Kutu trip memiliki ciri-ciri: tubuh berukuran kecil, sayap tertutup oleh tepung lilin yang berwarna putih. Hama ini lebih dikenal dengan nama hama putih (bodas). Kutu betina bertelur pada permukaan daun bagian bawah. Telurnya berwarna putih kekuningan yang ditutupi oleh lapisan Jilin.

Nimfa atau larvanya berwarna kuning pucat dan dibagian tepinya dikelilingi oleh lapisan Win seperti kapas. Kepompongnya juga ditutupi oleh lapisan lilin berbentuk tepung atau seperti kapas. Kutu putih merusak daun dengan cara mengisap cairan (sel) daun.

Daun yang diseranng kutu trip menampakkan gejala daun keriting (berkerut) dan tanaman tumbuh kerdil. Wereng (Empoasca Sp) memiliki ciri-ciri : tubuhnya berwarna hijau kekuning-kuningan, berukuran panjang berkisar antara 2,33 mm-2,65 mm.

Nimfa atau larvanya mengalami 4 kali instar. Instar terakhir yang akan menjadi dewasa dan berukuran panjang sekitar 2,20 mm dan tubuhnya berwarna hijau pucat.

Wereng mengisap cairan daun. Daun yang diserang wereng menampakkan gejala menyerupai daun yang terbakar. Serangan hama wereng dapat menyebabkan kerusakan tanaman yang berat.

Pencegahan dan pengendalian hama kutu dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inangnya.
  • b. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • c. Memangkas daun-daun atau bag ian-bagian tanaman yang terserang dan menjadi sarang telur kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • d. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Monitor 200LC, Mitac 200EC, Applaud 10WPP, Curacron 500 EC, Supracide 40 EC, Talsar 25 EC, Bestox 50 EC, Dicaaol 25 SP, Pegasus 500 SC.

11. Kumbang Daun (Phaedonia inclusa stal)

Kumbang daun (Phaedonia inclusa stal) memiliki ciri-ciri kepala dan dada (thorax) berwarna merah, sayap depan berwarna hitam kebiruan mengkilap dengan bagian pinggir berwarna kuning. Kumbang jantan memiliki ukuran tubuh lebih pendek dari kumbang betina.

Kumbang dewasa dan larvanya sama-sama merusak pucuk daun, tangkai daun, bunga, dan polong. Kumbang daun (Phaedonia incluse stal) dan ulatnya memakan pucuk daun muda, tangkai-tangkai daun muda, polong-polong muda.

Akibat serangan hama ini, polong-polong muda rusak (tidak dapat membentuk biji), pucuk batang dan daun-daun layu, dan ahkirnya mengering. Bila diperhatikan dengan teliti, akan tampak tangkai daun muda terdapat bekas gigitan atau keratan dari hama ini.

Pencegahan dan pengendalian kumbang daun dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Misalnya jagung, ubi-ubian.
  • b. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • c. Memangkas daun yang menjadi sarang telur hama ini.
  • d. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Surecide 25 EC,Decis 2,5 EC. Corsair 100 EC, Cymbush 50 EC. Korphos 25 EC, dan lain sebagainya. Penyemprotan dilakukan setelah tanaman berumur 3 minggu.

12. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon hufn)

Ulat tanah (Agrotis ipsilon hufn) memiliki ciri-ciri: badannya berwarna coklat tua kehitam-hitaman agak mengkilap, beruas-ruas, hat, dan lunak, panjang tubuh 2-5 cm. Ulat ini berada di dalam tanah di dekat tanaman.

Ulat menyerang tanaman pada malam hari. Bagian tanaman yang diserang adalah pangkal batang (leher akar) dan daun. Tanaman kacang hijau yang diserang ulat tanah, daun-daun muda terpotong-potong tidak beraturan sehingga tampak terbelah-belah dan tangkai daun rebah.

Apabila yang diserang batangnya, maka batang yang berada di permukaan tanah (pangkal batang) tampak terpotong sehingga tanaman rebah.

Serangan ulat tanah pada pangkal batang umumnya terjadi pada tanaman yang masih muda. Ulat tanah menyerang tanaman sangat cepat sehingga apabila tidak segera diatasi dapat menggagalkan panen.

Pencegahan dan pengendalian ulat tanah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • a. Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inangnya. Tanaman inang ulat tanah adalah tomat, kacang-kacangan, cabe, tomat, kentang, labu-labuan (melon, labu slam, pare, dan lain-lain), tembakau, wortel, terung.
  • b. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yang luas.
  • c. Menangkap ulat pada sore hari dan membunuhnya.
  • d. Membersihkan sisa-sisa tanaman mati yang dapat menjadi sarang kupu-kupu, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • e. Penggenangan air sesaat pada pagi hari dan sore hari dapat membunuh ulat yang berada di dalam tanah.
  • f. Memangkas daun yang telah menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan dan dibakar.
  • g. Pengolahan tanah yang intensif.
  • h. Menyebarkan musuh alaminya berupa parasitoid ulat, seperti Apanteles sp, Tritaxys brauei, dan Cuphocera vane, atau berupa jamur patogen, seperti Botrytis sp atau Metarrhizium sp.
  • i. Menggunakan perangkap dengan umpan yang terdiri atas campuran Dipetetx 95 SL, dedak, gula merah, dan air. Dosis untuk 1 hektar lahan adalah 250 g-500 g Dipeterx 95 SL, 20 kg dedak, 1-2 kg gula merah, dan 20 liter air.
  • j. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Hostathion 40 EC, Matador 25 EC, atau Furadan 3G, atau Darmafur 3 G. Penggunaan Furadan 3G dan Darmafur 3 G dilakukan dengan cara dipendam dalam tanah.

Tinggalkan Balasan