hama dan penyakit pada tanaman cabe
Cara Menanam

Hama Dan Penyakit Tanaman Cabe

hama dan penyakit pada tanaman cabe

Hama Dan Penyakit Tanaman Cabe merupakan dampak terbesar mengalaminya gagal panen dalam budidaya menanam cabe.

Kehilangan hasil dari produksi cabai yang di sebabkan oleh hama dan penyakit berkisar 5-30%.

Bahkan jika serangan tersebut sangat fatal, bisa mengakibatkan gagal panen secara total.

Oleh karena itu, pengendalian hama dan penyakit merupakan tahap yang benar-benar perlu untuk di pelajaripelajari dan di pahami.

Agar dapat mengantisipasi nya resiko kerugian dan gagal panen, yang di sebabkan oleh segala jenis hama dan penyakit.

Berikut pengendalian hama pada tanaman cabe :

Hama Tanaman Cabe Dan Pengendalinya

Hama yang pada umumnya sering menyerang tanaman cabe sebagai berikut, thrips, kutu daun apids, kuutu daun persik, tungau, kutu kebul, dan lalat buah serta ulat grayak.

Beberapa hama merupakan pembawa (vektor) penyakit penting.

Misalnya hama trhips, apids, dan tungau merupakan vektor penyakit keriting mozaik yang di sebabkan oleh virus.

  1. Thrips
  2. Kutu Daun
  3. Hama Tungau
  4. Kutu Kebul
  5. Lalat Buah
  6. Ulat Buah
  7. Ulat Grayak

Berikut penjelasan dari beberapa hama beserta pengendalianya :

Thrips

Hama ini di sebut pula thrips tembakau, selain cabe dan tembakau inang lainya yaitu kopi, ubi jalar dan kacang-kacangan.

Hama thrips berwarna kuning kecokelatan, memiliki gerakan yang cepat, pada saat kemarau popopulasinya bisa sangat tinggi.

Siklus hidup hama thrips berlangsung kisaran 7-12 hari.

Thrips menyukai daun muda, gejala hama thrips biasanya di tandai dengan noda berwarna keperakan.

Setelah itu noda tsb berubah menjadi warna cokelat tembaga,  dan daun-daun mengkeriting ke atas.

Pengendalian Hama Thrips

  • Jangan menanam cabai secara bertahap pada lokasi yang sangat berdekatan untuk jangka waktu lama, karena dapat menyebabkan tanaman yang baru di tanam dan masih muda akan mudah terserang oleh hama ini.
  • Kendalikan hama dengan menyemprotan insektisida secara teratur,gunakan insektisida seperti,Curacron 50EC konsentrasi 2ml/L, Agrimex 18 Ec konsentrasi 1 ml/L, Abuki 50 SL, Demolish 18 EC, atau Abamectin 21EC, dll.

Kutu Daun Cabe

Kutu daun di sebut juga hama apids, hama ini juga terdiri dari beberapa spesies, di antaranya Myzus persicae sulz, dan appys gossypii, Hama ini dapat menyebabkan kerugian secara tidak langsung karena menjadi vektor virus tertentu.

Virus yang dapat ditularkan oleh kutu daun kepada tanaman cabe, anatar lain virus maggulung daun kentang (PLRV), dan virus kentan (PVY).

itensitas serangan penyakit virus lebih tinggi kepada musim kemarau, yaitu saat populasi kutu daun yang tinggi. Kutu daun mengeluarkan cairan manis, yang dapat di tumbuhi cendawan berwarna hitam. (embun jelaga).

Embun jelaga dapat menutupi seluruh permukaan daun sehingga menghambat prosen fotosintesis. Serangan ini dapat menybabkan semua daun gugur dan tanaman merana.

Musuh alami yang potesial menyerang kutu daun, antara lain parasitoid aphidius sp, kumbang menochilus sp, dan larva syrpidhae, ischiodon scutellaris, ketiga musuh alami ini sangat berpotensi mengurangi kutu daun.

Pengendalian Kutu Daun

  • Jangan menanam cabe secara bertahap pada lokasi yang sangat berdekatan untuk jangka waktu lama karena tanaman yang muda akan lebih mudah terserang cukup parah. Lakukan pergiliran tanaman atau kosongkan areal (bera) penanaman lebih kurang satu bulan untuk memutus kehidupan siklus hama.
  • Kendalikan hama kutu daun dengan menyemprotan insektisda secara teratur, gunakan insektisida seperti curacon 50 EC kosentrasi 2ml/L, agrimex 18 EC kosentrasi 1 ml/L, buldok 25 EC, Dheltametrin 25 EC, Decis 25 EC, atau Orthene.

Hama Tungau

Tungau merupakan hama yang berukuran yang cukup kecil (kurang dari 1 mm), mirip laba-laba dan hidup di bagian bawah, Hama ini membentuk jaring-jaring halus sehingga menyulitkan pengendalian secara kimia.

Tungan bukan termasuk hama kelas insektasehingga tidak dapat di kendalikan dengan insektisida, Hama ini termasuk dalam kelas Archnida dan dapat di kendalikan dengan akarisida.

Beberapa spesies tungau yang menjdai hama cabe, yaitu, Tetranycu sp,dan Polyphagotarsonemus latus bank, Hama ini tersebar luas dan merupakan inag dan berbagai tanaman, antara lain cabe karet, tomat, kapas, jeruk, dan teh.

Hama tungau menyerang daun-daun muda, permukaan bawah daun yang terserang menjadi berwarna cokelat mengilap. Daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah (gejalasendok terbalik) dan pertumbuhan pucuk menjaid terhambat.

Gejala ini tampak dalam waktu yang relatif sangat cepat, 8-10 hari setelah infeksi dengan beberapa ekor tingau, dau-daun akan menjadi cokelat. Selanjutnya 4-5 hari kemdian pecuk-pucuk tanaman seperti terbakar dan gugur. Serangan berat terjafi pada musim kemarau.

Musuh alami tungau teh kuning yang di ketahui potensial, yaitu tungau predator Amblyseius sp, dan phytoseiulus persimilis.

Pengendalian Hama Tungau

  • Kumpulkan semua bagian yang terserang ( utamanya daun), masukan dalam kantong plasti dan bakar ( musnahkan).
  • Kendalikan hama tungau dengan menyemprotkan akarisida, seperti omite 570 EC sebanyak 2cc/ Liter, MITAC 200ec (0,2%) atau Harad 200 EC di bawah daun secara teratur hingga tuntas.

Baca Juga : Jenis Cabe Budidaya

 Hama Kutu Kebul

Dari beberapa spesies kutu kebul, Bamasia tabaci  merupakan salah satu spesies yang banyak merugikan karena menjadi vektor begomovirus, Serangg B, Tabaci bersifat polifag (inang nya lebih dari 600 spesies).

Ada tiga bentuk kerusakan yang di sebabkan oleh tabaci, yaitu sebagai berikut :

  • Kerusakan langsung.keruskan yang disebabkan oleh tusukan stiletnya. Akibat aktifitas tersebut tanaman cabe menjadi emah dan layu, sehingga menurunkan efiensi pertumbuhan tanaman dan hasil.
  • Kerusakan tidak lang, keruskan yang di sebabkan oleh akumulasi embun madu kutu kebul. Embun madu merupakan substrat untuk pertumbuhan cendawanembun jelaga pada daun dan buah, Akibat adanya embun jelaga dapat menurunkan efiensi fotosintesis dan menurunkan mutu buah.
  • Kerusakan kemampuan sebagai vektor virus tanaman. populasi kutu kebul yang kecil sudah dapat menimbulkan kerusakan tanaman karena serangga ini merupakan vektor virus tanaman.

Gejala serangan kutu kebul berupa bercak nekrotik pada daun akibat rusaknya sel-sel pada jaringan daun. Ekresi kutau kebul menghasilkan embun madu yang merupakan media yang baik sebagai tempat tumbuhnya embun jelaga berwarna hitam. Selain itu, jika kutu kebul membawa begomo virus, gejala yang muncul adalah penyakit keriting kuning yang dapat mnurunkan hasil 20 – 100 %.

Musuh alami kutu kebul yaitu kumbang predator  Menochilus sexmaculatus. Kumbang ini mampu memangsa 200-400 kutu kebul.

Pengendalian Kutu Kebul

  • Lakukan pergiliran tanaman yang bukan inag dari kutu kebul, Tanaman inang kutu kebul di antaranya tomat, kentang, semangka, timun, terong, kubis, buncis, selada, garbera, ubi jalar singkong, kedelai, tembakau, dan lada.
  • Kendalikan gulma seperti babadotan, putri malu, kacanga tanah hias, dan ciplukan yang merupakan temapat inang dari begomovirus. Tanam tanaman tagetes di sekitar pertanaman cabe untuk mengurangi serangan kutu kebul.
  • Kumpulkan dan bakar sisa tanaman yangterserang kutu kebul. Kendalikan hama dengan memasang perangkap berwarna kuning 1 buah setiap 100 m².
  • Kendalikan hama ini sesegera mungkin dengan menyemprotkan larutan teflubenzuron 50EC, Permetrin 25EC, Imidakloropid 200SL, dan metidation di bagaian bawah daun.

Lalat Buah

Lalat buah (Bractocera dorsalis Hendel) termasuk hama utama tanaman cabai. Hama bersifat polifag (banyak inang), tersebar luas dari India sampai ke Filipinia. Di Jawa, selain menyerang buah cabai, hama ini menyerang sekitar 20 macam buah-buahan, antara lain jeruk, pisang, belimbing, apel, dan mangga.

Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan ditemukannya titik hitam pada pangkal buah. Jika dibelah, di dalam buah ditemukan belatung (larva) lalat buah. Serangga betina dewasa meletakkan telur di dalam buah, yaitu dengan cara menusukkan ovipostornya pada pangkal buah muda (masih hijau).

Selanjutnya, larva hidup di dalam buah cabai sehingga buah membusuk dan gugur. Serangan berat terjadi pada musim hujan. Hal ini disebabkan bekas tusukan ovipositor terkontaminasi oleh cendawan sehingga buah yang terserang cepat membusuk dan gugur.

Pengendalian Hama Lalat Buah

  • a) Lakukan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang lalat buah. Waspadai buah-buahan yang berada di sekitar pertanaman cabai.
  • b) Kumpulkan buah cabai yang terserang, lalu masukkan ke dalam kantong plastik dan musnahkan.
  • c) Kendalikan lalat buah dengan perangkap lalat buah berbahan aktif petrogenol yang efektif memerangkap lalat jantan. Jika perlu, lakukan penyemprotan menggunakan insektisida, misalkan Decis 2,5 EC I ml per liter secara rutin hingga tuntas.

Hama Ulat buah

Ulat buah (Helicoverpa armigera Hubner) umumnya menyerang tanaman cabai saat mulai berbuah. Hama ini bersifat polifag (banyak inang). Inang lain selain cabai, yaitu tomat dan kedelai. Hama ini tersebar luas di Indonesia, terdapat di dataran rendah dan tinggi (sampai 2.000m dpl).

Buah cabai yang terserang ulat buah menunjukkan gejala berlubang. Jika dibelah, di dalam buah terdapat ulat. Ulat buah menyerang buah cabai dengan cara melubangi dinding buah cabai. Umumnya instar pertama ulat buah menyerang buah yang masih hijau.

Saat musim hujan, serangan ulat buah akan terkontaminasi oleh cendawan sehingga buah yang terserang akan membusuk. Ada beberapa musuh alami yang menyerang ulat buah, antara lain parasitoid telur Trichogramma nana, parasitoid larva Diadegma argenteopilosa, cendawan Metharrhizium, dan nematoda parasit serangga (“entomophagous nematodes”).

Pengendalian Hama Ulat Buah

  • a) Lakukan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang ulat buah. Waspadai tanaman lain yang sedang berbuah yang berada di sekitar pertanaman cabai.
  • b) Kumpulkan buah cabai yang terserang, lalu masukkan dalam kantong plastik dan musnahkan.
  • c) Jika perlu, lakukan penyemprotan menggunakan insektisida, misalkan Decis 2,5 EC ml per liter secara rutin hingga tuntas.

Bscs Juga : Cara Produksi Benih Cabe Hibrida

Hama Ulat gerayak

Hama ulat gerayak (Spodoptera litura Fabricius) bersifat kosmopolitan, tersebar luas di Asia, Pasifik, dan Australia. Di Indonesia, hama ini di kenal sebagai hama tembakau.

Gerayak bersifat polifag karena selain menyerang tanaman tembakau, juga menyerang tanaman lain, seperti cabai merah, padi, kacang panjang, kacang tanah, dan kubis.

Ulat gerayak memakan daun dan buah. Gejala serangan larva instar I dan 2 berupa bercak-bercak putih yang menerawang karena epidermis daun bagian atas ditinggalkan. Ulat menyerang bersama-sama dalam jumlah besar dengan cara memakan daun tanaman hingga gundul dan tersisa hanya tulang-tulang daun atau daun berlubang-lubang.

Akibatnya, pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Serangannya terjadi pada malam hari dan semakin ganas saat musim kemarau.

Musuh alami S. litura, antara lain parasitoid telur Telenomus spodopterae dan predator, yaitu kepik buas. Musuh alami lainnya, yaitu penyakit virus, yaitu SENPV (Spodoptera exigua Nuclear Polyhidrisis Virus).

Pengendalian Hama Ulat Grayak

  • a) Kumpulkan telur dan ulat, lalu musnahkan. Biasanya telur diletakkan di daun bagian bawah.
  • b) Manfaatkan agens hayati Nuclear Polyhedrosis Virus (SINPV), Bacillus thuringiensis, tanaman perangkap seperti jagung, feromon seks, dan bahan nabati, seperti serbuk biji mimba 10 g/l untuk mengendalikan hama ini.
  • c) Kendalikan dengan menyemprotkan insektisida, misalkan Decis 2,5 EC I ml per liter atau Buldok 25 EC secara rutin hingga tuntas.

Penyakit Tanaman Cabe

hama dan penyakit pada tanaman cabe

Pengendalian Penyakit Penyakit penting tanaman dan buah cabai, di antaranya :

  1. Rebah kecambah.
  2. Layu bakteri.
  3. Layu fusarium.
  4. Antraknosa.
  5. Busuk daun choanephora.
  6. Hawar phytopthora.
  7. Bercak daun cercospora.
  8. Bercak bakteri.
  9. Busuk lunak bakteri.
  10. Keriting kuning.
  11. Mozaik virus.
  12. Kerupuk.

Beberapa penyakit dibawa oleh hama tertentu, seperti thrips, apids, tungau, dan kutu kebul. Serangan penyakit tertentu yang disebabkan oleh cendawan dan bakteri akan semakin tinggi saat musim hujan.

Penyakit rebah kecambah

Penyakit rebah kecambah disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani dan Phythium spp. yang berada dalam tanah. Patogen ini menyerang tanaman cabai di persemaian sehingga menyebabkan benih busuk serta bibit rebah dan mati.

Patogen ini juga menyerang tanaman muda yang baru ditanam di lahan dengan gejala batang cabai patah 2-4 HST.

Infeksi cendawan terjadi pada pangkal batang sehingga menjadi lunak dan berair. Akibatnya, batang genting dan patah. Penyakit ini berkembang cepat pada kondisi kelembapan tinggi.

Kegiatan pengendalian penyakit rebah kecambah adalah sebagai berikut.

  • a) Rendam benih sebelum disemai dengan air hangat (55 60° C) selama 30 menit. Selain perlakuan panas, benih dapät direndam fungisida, seperti Previcur N atau Dithane M45 atau fungisida berbahan aktif captan dengan konsentrasi 2 g/l selama 10 menit.
  • b) Lakukan sterilisasi media semai dengan cara mengukusnya selama 30 menit. Sterilisasi dapat juga dilakukan dengan pemberian Basamid-G.
  • c) Hindarkan genangan air di pembibitan dan lahan. Atur drainase lahan agar air hujan tidak menggenang.
  • d) Semprot bibit dengan fungisida, seperti Dithane M45 atau Antracol konsentrasi I mi/l setiap minggu.
  • e) Siramkan larutan fungisida, seperti Dithane M45 atau Antracol konsentrasi I mi/l di lubang tanam.

Baca Juga : Pengendalian Hama Dan Penyakit Kacang Tanah

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri pada cabai disebabkan oleh Ralstonia solanacearum (E.F. Smith) yang dahulu dikenal dengan Pseudomonas solanacearum (E.F. Smith).

Penyakit layu bakteri sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian tanaman dan kegagalan panen sehingga menimbulkan kerugian atau penurunan hasil yang relatif besar.

Penyakit layu bakteri ini sulit dikendalikan karena R. solanacearurm merupakan bakteri yang sangat destruktif dan memiliki kisaran inang yang luas pada tanaman budidaya (tomat, kentang, cabai, kacang tanah, dan pepaya), tanaman hias, dan gulma di daerah tropis maupun subtropis.

Bakteri ini tergolong patogen terbawa tanah (soil-borne) dan dapat bertahan hidup pada tanaman inang alternatif dan gulma. Kemampuan bertahan hidup bakteri di dalam tanah semakin tinggi, terutama lahan yang terus-menerus ditanami inang yang rentan.

Gejala layu pertama tanaman tua biasanya terjadi pada daun-daun tanaman yang terletak di bagian bawah tanaman. Namun, gejala layu tanaman yang muda mulai tampak pada daun-daun atas dari tanaman.

Setelah beberapa hari, gejala kelayuan diikuti oleh layu yang tiba-tiba dan layu permanen dari seluruh daun tanaman, tetapi daun tetap hijau atau disertai dengan sedikit menguning. Jaringan pembuluh dari batang bagian bawah akar dan akar menjadi kecokelatan.

Apabila dipotong melintang dan dicelupkan ke dalam air jemih, batang atau akar tersebut akan terlihat mengeluarkan cairan keruh yang merupakan koloni bakteri.

Pengendalian Penyakit Layu Bakteri

  • a) Gunakan pupuk kandang yang telah terdekompoisis dengan baik.
  • Pupuk kandang yang sedang terdekomposisi dapat memacu perkembangan bakteri akibat kenaikan suhu tanah oleh proses fermentasi pupuk.
  • b) Hindarkan genangan air di lahan. Atur drainase lahan agar air hujan tidak menggenang.
  • c) Kurangi penggunaan pupuk berkadar N tinggi, seperti urea. Jika perlu, gunakan pupuk NPK. Penggunaan urea yang berlebihan akan menyebabkan tanaman sukulen dan mudah terserang penyakit ini.
  • d) Cabut dengan segera tanaman yang menunjukkan gejala layu agar tidak menular ke tanaman lain. Ambil tanah di lubang tanam dari tanaman yang sakit. Siram tanaman sakit dan tanah tersebut dengan bakterisida Agrept. Masukkan tanaman ke dalam kantong plastik, lalu kubur kantong tersebut jauh dari lokasi pertanaman cabai.
  • e) Lakukan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang layu bakteri. Gunakan varietas tahan, misalnya Gada, Astina, atau IPB CH3. Gunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakteri) sebagai kocoran di sekitar perakaran, g) Jika serangan sudah berat, siram lubang tanam dengan larutan bakterisida Agrept 20 WP, Bactomycin 15/5, atau Agrimycin.

Penyakit Layu Fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh Fusarium oxysporum var. vasinfectum Shyder & Hausen. Selain cabai, tanaman inang lain dari penyakit ini, di antaranya kacang panjang, bawang merah, tomat, dan mentimun.

Inisiasi infeksi terjadi pada leher batang bagian bawah yang bersinggungan dengan tanah. Bagian tersebut membusuk dan berwama cokelat. Infeksi menjalar ke akar sehingga mengalami busuk basah.

Apabila kelembapan tanah cukup tinggi, bagian leher batang yang semula busuk kering tersebut berubah warna menjadi putih keabu-abuan karena terbentuk massa sporangia.

Gejala serangan layu fusarium pada bagian tanaman di atas tanah berupa kelayuan daun-daun bagian bawah, lalu menjalar ke ranting-ranting muda serta berakhir dengan kematian daun dan ranting yang ditandai adanya warna cokelat.

Cendawan tersebut berada di dalam pembuluh kayu. Serangan lanjut mengakibatkan seluruh tanaman menjadi layu dalam waktu 14-90 hari sejak infeksi.

Pengendalian Penyakit Layu Fusarium

  • a) Gunakan pupuk kandang yang telah terdekompoisis dengan baik. Pupuk kandang yang sedang terdekomposisi dapat memacu perkembangan cendawan ini.
  • b) Rendam benih sebelum ditanam dalam larutan fungisida sistemik, misalnya Benomyl atau Derosal 500 SC konsentrasi I ml/l selama 10-15 menit.
  • c) Hindarkan genangan air di lahan. Atur drainase lahan agar air hujan tidak menggenang.
  • d) Kurangi penggunaan pupuk berkadar N tinggi, seperti urea. Jika perlu, gunakan pupuk NPK. Penggunaan urea yang berlebihan akan menyebabkan tanaman sukulen dan mudah terserang penyakit ini.
  • e) Cabut dengan segera tanaman yang menunjukkan gejala layu fusarium agar tidak menular ke tanaman lain. Ambil tanah di lubang tanam dari tanaman yang sakit. Siram tanaman sakit dan tanah tersebut dengan fungisida, seperti Derosal500 SC konsentrasi 2 ml/I. Masukkan tanaman ke dalam kantong plastik, lalu kubur jauh dari lokasi pertanaman cabai.
  • f) Lakukan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang layu fusarium. Gunakan varietas tahan atau toleran terhadap layu fusarium, seperti IPB CH3 atau Gada.
  • g) Siram tanaman dengan Derosal 500 SC konsentrasi 2 ml/l, Antracol 70 WP konsentrasi 2 g/l, atau Delsane konsentrasi 2 g/l, atau Folicur 25 WP konsentrasi 2 g/l, atau Dithane M45 konsentrasi 2 g/l, atau Avil 50 SC secara bergantian.

Penyakit antraknosa

Antraknosa pada cabai disebabkan oleh genus Colletotrichum. Ada enam spesies utama yang menyebabkan antraknosa, yaitu Colletotrichum głoeosporioides, C. acutatum, C. dematium, C. capsici, dan C coccodes.

Dari enam spesies tersebut, C. capsici, C. gloecsporioides, dan C. acutatum menyebabkan kerusakan pada buah dan kehilangan hasil paling besar. Di Indonesia, penyakit antraknosa sudah sangat meluas, baik pertanaman di dataran rendah maupun dataran tinggi.

Penyakit tersebut menyebabkan kerugian yang sangat besar karena menyerang buah pada berbagai fase perkembangan, baik yang baru terbentuk maupun yang telah siap dipanen. Penyakit ini dapat menurunkan hasil cabai hingga 75%.

Di daerah Brebes, Jawa Tengah, dilaporkan masih menyebabkan kerugian hingga 45%, Demak hingga 65%, sedangkan di Sumatera Barat mencapai 35% meskipun telah dilakukan pengendalian sangat intensif menggunakan fungisida.

Cendawan ini menyerang semua bagian tanaman, terutama buah. Penyakit ini dapat menimbulkan kegagalan berkecambah. Serangan penyakit ini pada kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah.

Serangannya pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, lalu infeksi berlanjut ke bagian lebih bawah, yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering berwarna cokelat kehitam-hitaman.

Acervuli dapat dilihat pada batang berupa jendulan ke atas. Penyakit ini menyebabkan buah busuk berwarna, seperti terkena sengatan matahari dan diikuti oleh busuk basah yang berwarna hitam karena penuh dengan setae (rambut hitam) yang berbentuk konsentrik. Penyakit ini umumnya menyerang buah cabai yang menjelang merah.

Pengendalian Penyakit Pntraknosa

  • a) Rendam benih dalam air hangat kuku (55-60° C) selama 30 menit atau berikan perlakuan dengan füngisida sistemik, yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0,1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati.
  • b) Siram bibit dengan fungisida, seperti Antracol (umur 5 hari sebelum pindah tanam).
  • c) Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit. Selain itu, cuci tangan dengan segera setelah memegang tanaman sakit.
  • d) Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili Solanaceae (terong dan tomat) atau tanaman inang lainnya, seperti pepaya. Berdasarkan penelitian IPB, patogen antraknosa pada pepaya dapat menyerang cabai. Oleh karena itu, jangan menanam cabai dekat dengan tanaman cabai yang sudah terserang antraknosa ataupun tanaman inang lain yang telah terinfeksi.
  • e) Gunakan mulsa plastik hitam perak karena dapat memantulkan sinar matahari pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembapan tidak terlalu tingi.
  • f) Gunakan jarak tanam yang lebar: yaitu sekitar 70 cm x 60 cm dan tanam secara zig-zag untuk mengurangi kelembapan. Lakukan pengendalian gulma agar kelembapan berkurang.
  • g) Kendalikan penyakit dengan menyemprotkan fungisida, misal Antracol 70 WP, Daconil 70 WP dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 WP, Topsin M70WP, Previcur N, Starmyl 25WP, Score 250 EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik). Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprotan, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau fungisida kontak atau bisa juga gabungan keduanya.

Penyakit Busuk Daun Choanephora

Penyakit busuk daun choanephora disebabkan oleh Choanephora cucurbitarum Thaxter. Infeksi pertama terjadi pada titik tumbuh, bunga, dan pucuk daun. Selanjutnya, infeksi menyebar ke bagian bawah tanaman.

Pucuk daun berubah dari warna hijau menjadi warna cokelat, lalu hitam dan akhimya membusuk. Busuk ini merambat menuju ke bagian bawah tanaman dan kembali menyerang kuncup daun yang lain sehingga seluruh bagian atas tanaman terkulai.

Batang yang terserang penyakit ini menjadi busuk kering dan kulitnya sangat mudah terkelupas. Akhirnya, tanaman akan mati. Dalam kondisi kelembapan tinggi, akan terbentuk bulu-bulu berwarna hitam, yang muncul dari jaringan yang terinfeksi cendawan ini.

Pengendalian Penyakit Busuk Daun Choanephora

  • a) Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan.
  • b) Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit dan segera mencuci tangan.
  • c) Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili Solanaceae (terong dan tomat) atau tanaman inang lainnya.
  • d) Kendalikan penyakit dengan menyemprotkan fungisida, misalnya Antracol 70 WP, Daconil 70 WP, dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 WP, Topsin M70 WP, Previcur N, Starmyl 25 WP, Score 250EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik). Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprotan, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau fungisida kontak atau bisa juga gabungan keduanya.

Penyakit Hawar Phytopthora

Penyakit hawar phytopthora disebabkan oleh Phytophthora capsici Leoman. Penyakit ini tidak hanya menyebar dan menimbulkan permasalahan tanaman cabai di Indonesia, tetapi di seluruh dunia.

Kehilangan hasil akibat gangguan P. capsici di Turki dilaporkan mencapai lebih dari 40%. Kehilangan hasil akibat serangan P. copsici di Meksiko mencapai 60-100%.

Di Indonesia, gangguan cendawan ini telah menghancurkan lebih dari 60% areal pertanaman cabai petani di Tegal. Seluruh bagian tanaman dapat terinfeksi oleh penyakit busuk daun tersebut.

Serangan pada kecambah dapat menimbulkan kematian tanaman. Pada tanaman yang lebih tua, gejala tampak baik pada batang, daun, maupun buah. Apabila infeksi terjadi pada tanaman yang masih muda, tanaman akan mati. Infeksi batang diawali dari leher batang.

Batang yang terserang menderita busuk basah, berwarna hijau, kemudian mengering dan berwarna cokelat. Serangan batang dapat terjadi pada setiap bagian dari batang.

Gejala lanjut pada batang ialah terjadinya pengerasan jaringan batang dan seluruh tanaman cabai menjadi layu. Gejala pada daun diawali adanya bercak putih berbentuk sirkuler atau tidak beraturan.

Bagian tersebut tampak seperti tersiram air panas. Bercak tersebut kemudian melebar, mengering seperti kertas, dan akhirnya memutih, kadang-kadang diliputi warna putih dari massa spora. Infeksi buah berawal dari batang, kemudian berkembang pada tangkai buah dan berakhir pada buah.

Serangan pada buah mengakibatkan buah berwarna hijau tua dan busuk basah. Dalam jangka waktu beberapa han seluruh buah akan terinfeksi, lalu buah mengering dan keriput.

Pengendalian Penyakit Hawar Phytopthora

  • a) Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan.
  • b) Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Setelah memegang tanaman yang sakit, sebaiknya mencuci tangan darn usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat.
  • c) Cabut dengan segera tanaman yang menunjukkan gejala hawar agar tidak menular ke tanaman lain. Selain itu, buang tanah di lubang tanam dari tanaman yang sakit. Siram tanaman sakit dan tanah tersebut dengan fungisida, seperti Derosal 500 SC dengan konsentrasi 2 ml/l. Masukkan tanaman ke dalam kantong plastik, lalu kubur jauh dari lokasi pertanaman cabai.
  • d) Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili Solanaceae atau tanaman inang lainnya.
  • e) Kendalikan penyakit dengan meryemprotkan fungisida, misal Antracol 70 WP, Daconil 70 WP, dan Manzate 82 WP (fungisida kontak); Folicur 25 WP Topsin M70WP, Previcur N, Starmyl 25WP Score 250 EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik).

Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprotan, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau fungisida kontak atau bisa juga gabungan keduanya.

Penyakit Bercak Bakteri

Penyakit becak bakteri disebabkan oleh Xanthomonas campestris p.v. versicatoria (Doidge) Dye. Bagian tanaman yang terserang, yaitu daun, ranting, dan buah. Bercak daun awalnya terlihat berukuran kecil berbentuk sirkuler dan timbul bisul yang berwarna hijau pucat.

Bagian tengah bisul tersebut ada bagian yang melekuk ke dalam. Bercak untuk daun yang lebih tua berwarna hijau tua dan terjadi busuk basah. Jaringan bagian tengah bercak tersebut dalam waktu beberapa hari akan mati berwarna cokelat.

Antara jaringan yang terinfeksi dan yang sehat berwarna kuning. Apabila bercak-bercak cukup banyak, daun akan gugur. Saat curah hujan yang tinggi, gejala dapat terjadi serentak pada seluruh helai daun adalah berwarna kuning, membusuk, akhirnya mengering dan berguguran

Batang atau ranting terjadi kanker berwarna kecokelat-cokelatan, Buah yang terserang terlihat bercak berbentuk sirkuler, retak-retak kasar menyerupai kutil pada permukaan.

Pengendalian Penyakit Bercak Bakteri

  • a) Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan.
  • b) Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit. Cuci tangan dengan segera setelah memegang tanaman sakit.
  • c) Lakukan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang bercak bakteri. Gunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakten) sebagai kocoran di sekitar perakaran.
  • d) Jika serangan sudah berat, semprotkan bakterisida Agrept 20 WP, Bactomycin 15/5, atau Agrimycin.

Penyakit Bercak Daun Cercospora

Penyakit ini disebabkan oleh Cercospora capsici Heald and Wolf. Daun petiolus, bunga, batang, dan pedici dapat diserang penyakit ini, Serangan yang tenadi pada pedial dapat menimbulkan malformasi buah, artinya buah tidak dapat berkembang, melainkan kerdil.

Bercak daun cercospora dapat menimbulkan defoliasi jika serangan terjadi pada daun. Sementara itu, jika serangan terjadi pada bunga, akan terjadi gugur bunga.

Bercak daun cercospora berbentuk oblong (bulat) sirkuler dengan bagian tengah berwarna abu-abu tua dan cokelat tua di bagian luarnya. Adapun ukurannya 0,25 cm.

Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit bintik mata kodok karena bintik tersebut berbentuk mata kodok. Saat berukuran lebih besar, bercak mengering dan retak dan akhirnya bagian yang terserang akan rontok.

Pengendalian Penyakit Bercak Daun Cercospora

  • a) Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama pada musim hujan.
  • b) Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Selanjutnya, segera cuci tangan setelah memegang tanaman sakit. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit.
  • c) Lakukan pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili Solanaceae atau tanaman inang lainnya.
  • d) Kendalikan penyakit dengan menyemprotkan fungisida, misalnya Antracol 70 WP, Daconil 70 WP. dan Manzate 82 WP (fungisida kontak): Folicur 25 WP. Topsin M70 WP, Previcur N, Starmyl 25 WP Score 250 EC, dan Amistartop 325 EC (fungisida sistemik).

Semprotkan fungisida secara bergilir antarpenyemprotan, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau fungisida kontak atau bisa juga gabungan keduanya.

Penyakit busuk lunak bakteri

Penyebab penyakit busuk lunak bakteri ini disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora (Jones) Bergey et al. var. carotovora. Gejala serangan dapat dimulai dari terjadinya bercak lunak berukuran kecil di tempat infeksi, baik di batang. tangkai, kelopak buah, maupun kulit buah.

Pembusukan berkembang secara cepat ke seluruh buah. Gejala busuk buah umumnya diawali dengan warna pucat, seperti sengatan matahari.

Bagian dalam buah menjadi busuk lunak dan berlendir. Lendir ini dapat keluar dari dalam buah, menguap dalam waktu beberapa hari, seluruh bagian buah menjadi kering, dan hanya tinggal kulit menyerupai kantung.

Infeksi bakteri pada buah dapat dipacu oleh gigitan ulat buah sehingga serangan penyakit akan menjadi lebih cepat berkembang.

Pengendalian Penyakit Busuk Lunak Bakteri

  • a) Atur kelembapan lingkungan pertanaman dengan cara pengaturan drainase dan jarak tanam. Jarak tanam rapat dapat menyebabkan kelembapan terlalu tinggi, terutama di musim hujan.
  • b) Musnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Segera cuci tangan setelah memegang tanaman sakit. Usahakan tidak memegang tanaman (bagian tanaman) yang sehat setelah memusnahkan bagian tanaman yang sakit.
  • c) Lakukan pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang busuk bakteri. Gunakan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobakten) sebagai kocoran di sekitar perakaran.
  • d) Jika serangan sudah berat, semprotkan bakterisida Agrept 20 WP Bactomycin 15/5, atau Agrimycin.

Penyakit daun keriting kuning (begomovirus)

Penyakit daun keriting kuning adalah salah satu penyakit menakutkan yang menyerang pertanaman cabai di Indonesia maupun di dunia. Penyakit tersebut disebabkan oleh infeksi Begomovirus, anggota kelompok Geminivirus.

Penyakit yang disebabkan oleh virus ini ditularkan oleh kutu kebul Bemisia tabaci yang populasinya sangat tinggi saat kemarau. Penyakit ini tergolong baru di Indonesia, tetapi serangannya cukup luas dan sangat merugikan.

Gejala yang ditimbulkan berupa daun muda yang tulang daunnya lebih jernih (veinclearing), penebalan tulang daun, dan penggulungan daun. Infeksi lanjut begomovirus menyebabkan daun-daun mengecil dan berwarna kuning terang, tepi daun melengkung ke atas, ukuran daun mengecil, serta tanaman menjadi kerdil.

Pengendalian Penyakit Begomovirus

  • a) Kendalikan gulma, seperti babadotan, puteri malu, kacang tanah hias Arachis pintoi, dan ciplukan yang menjadi inang begomovirus.
  • b) Cabut tanaman yang terserang penyakit ini sesegera mungkin. Selanjutnya, kumpulkan dan bakar tanaman tersebut.
  • c) Gunakan varietas toleran, seperti PM 999. d) Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit ini. Kendalikan hama kutu kebul (vektor virus ini) dengan menyemprotkan larutan Teflubenzuron 50 EC, Permetrin 25 EC, Imidaklroplid 200SL. dan Metidation di bagian bawah daun.

Penyakit Mosaik Virus

Penyakit mosaik dapat disebabkan oleh satu jenis virus atau gabungan beberapa jenis virus, seperti Virus Mosaik Mentimun (Cucumber Mosaic Virus = CMV), virus belang urat daun (Chilli Veinal Mottle Virus = CVMV), Virus Y kentang (Potato Virus Y = PVY).

Virus Mosaik Tembakau (Tobacca Mosaic Virus = TMV) dan Chilli Veinal Mottle Virus in Chilli (ChiVMV). Daun cabai yang terserang virus mosaik menunjukkan gejala belang hijau muda dan hijau tua. Ukuran daun relatif lebih kecil dari daun tanaman sehat.

Sepanjang tulang-tulang daun terdapat jaringan yang menguning atau hijau gelap atau tulang daun menonjol dan berkelok-kelok dengan pinggiran daun yang bergelombang.

Daging daun kadang-kadang tidak tumbuh sempurna sehingga yang tumbuh hanya tulang-tulang daunnya saja. Pertumbuhan tanaman yang terserang akan menjadi kerdil.

Pengendalian Penyakit Mozaik Virus

  • a) Kendalikan gulma di sekitar pertanaman yang menjadi inang virus.
  • b) Segera cabut tanaman yang terserang penyakit ini. Selanjutnya, kumpulkan dan bakar tanaman tersebut.
  • c) Gunakan varietas toleran, seperti PM 999.
  • d) Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit ini. Kendalikan hama apids, thrips, dan tungau sesegera mungkin dengan menyemprotkan larutan pestisida secara berkala.

Penyakit Kerupuk

Penyebab penyakit kerupuk pada tanaman cabai yang ada di Indonesia adalah virus dari grup luteo, terutama Tobacco Leaf Curly Virus (TLCV). Partikel luteo berbentuk bulat dengan diameter 29 mm. Penularan penyakit melalui benih dan mekanis.

Warna daun tanaman terserang menunjukkan gejala hijau gelap, permukaannya tidak rata, dan menggulung ke arah bawah. Pertumbuhan tanaman sangat kerdil. Jumlah bunga dan buahnya berkurang Bahkan, tanaman tidak dapat menghasilkan buah sama sekali.

“Media Jawa Tani Fanspage

Pengendalian Penyakit Kerupuk

  • a) Kendalikan gulma di sekitar pertanaman yang menjadi inang virus.
  • b) Cabut tanaman yang terserang penyakit ini sesegera mungkin, lalu kumpulkan dan bakar.
  • c) Saat ini belum ada pestisida yang mampu mengendalikan penyakit iní. Kendalikan hama apids, thrips dan tungau dengan menyemprotkan larutan pestisida secara berkala.

Tinggalkan Balasan