Cara Menanam Kacang Hijau

Cara Menanam Kacang Hijau – Dalam rangka meningkatkan produksi kacang hijau untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri maupun luar negeri, Di mana potensi budidaya kacang hijau di indonesia sendiri cukup besar sebagai negara yang beriklim tropis.

Untuk pengembangan budidaya kacang hijau di indonesia agar potensi yang di miliki benar- benar bisa di manfaat kan diperlukan pengembangan luas areal penanaman dan penggunaan teknologi.

Kacang hijau sebagai salah satu kelompok tanaman palawija dapat dibudidayakan di berbagai lahan seperti lahan sawah irigasi, lahan kering ( tegalan ), sawah tadah hujan dan di lahan pasang surut.

Pada kesempatan kali ini jawatani akan berbagi tips tentang cara menanam kacang hijau yang baik dan benar dari perawatan hingga panen. simak ulasan berikut ini:

Cara Menanam Kacang Hijau Dan Tips Perawatan

Kacang hijau sendiri merupakan tanaman yang cocok di tanama di area lahan yang kering maupun di area lahan yang basah atau lembap.

Di dalam teknik budi daya kacang hijau, hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah pengadaan benih, persiapan lahan, penanaman benih, penyulaman, pengairan, pemupukan, penyiangan, dan pengendalian hama dan penyakit.

Tahap penting Cara Menanam Kacang hijau:

Pemilihan Benih

Tanaman kacang hijau diperbanyak dengan biji. Sehingga dengan demikian, untuk bertanam kacang hijau diperlukan biji sebagai benih. Pengadaan benih kacang hijau dapat dilakukan melalui dua cara, yakni membeli benih yang siap tanam dan dengan cara mengadakan pembenihan sendiri.

Penggunaan benih varietas lokal maupun varietas unggul hasil panen sebelumnya sebaiknya dihindari. Karena benih ini memiliki kualitas yang rendah, sehingga apabila ditanam produksinya rendah, tanaman tidak tahan terhadap serangan penyakit, daya adaptasi terhadap lingkungan rendah.

Baca Juga : Syarat Tumbuh Kacang Hijau

Karena benih tersebut sudah merupakan campuran dari beberapa strain atau varietas. Untuk mendapatkan benih yang berkualitas baik, sebaiknya pengadaan benih dilakukan dengan cara membeli benih yang siap tanam. Karena benih dihasilkan dari penanganan yang sangat selektif di kebun pembenihan.

Benih yang berkualitas baik yang diproduksi dari perusahaan pembenihan memiliki daya hasil tinggi, benih memiliki bentuk dan ukuran seragam, benih murni, dan mempunyai ketahanan terhadap serangan beberapa jenis hama dan penyakit, seperti penyakit karat, virus, dan hama lalat bibit.

Penggunaan benih yang berkualitas sangat menunjang keberhasilan berusaha tani kacang hijau. Pengadaan benih dengan cara membeli benih yang siap tanam, sebaiknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

Benih telah disertifikasi, karena benih yang telah disertifikasi terjamin kualitasnya.

Tanggal batas waktu penggunaan benih, Benih yang telah kadaluwarsa, persentase perkecambahan benih telah menurun.

Benih dari varietas unggul. yang tekah tersedi di toko-toko pertanian.

Selanjutnya ciri ciri benih varietas unggul memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Daya tumbuh lebih dari 80%.

2. Kecepatan tumbuh kurang dari 4 hari.

3. Benin murni, artinya tidak tercampur dengan varietas lain.

4. Benih sehat dan utuh (tidak cacat).

5. Benin tidak tercampur biji gulma.

6. Benin bernas, berwarna mengilap, dan tidak keriput.

Pengadaan benih kacang hijau hendaknya juga memperhatikan kebutuhannya per-satuan luas lahan yang akan ditanami.

Kebutuhan benih kacang hijau untuk penanaman satu hektar lahan

Tabel 3 Kebutuhan benih kacang hijau untuk penanaman satu hektar lahan

Kebutuhan benih per-satuan luas lahan tergantung pada jarak tanam, ukuran atau besamya benih dari varietas yang akan ditanam, dan jumlah benih yang ditanam per-lubang tanam. Kebutuhan benih kacang hijau untuk penanaman seluas 1 hektar lahan menurut jarak tanam, besarnya benih dan jumlah benih per lubang tanam seperti pada Label 3.

Selanjutnya…


Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah irigasi teknis (bekas tanaman padi) cukup dengan membuat bedengan dan saluran irigasi dan drainase. Sehingga dengan demikian tidak perlu dilakukan pengolahan tanah.

Sebab, tidak terdapat interaksi antara perlakuan pengolahan tanah dengan hasil panen. Hasil panen kacang hijau dari lahan yang diolah dan tanpa diolah tidak berbeda, demikian pula antara lahan yang diolah sempurna dan yang diolah tidak sempurna (Balittan, 1989).

Adapun penyiapan lahan untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah irigasi meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

Pembuatan Bedengan dan Parit

Bedengan untuk penanaman kacang hijau berukuran lebar 4 m dan panjang bedengan menurut panjangnya petakan kebun. Namur!, apabila petakan kebun sangat panjang sebaiknya panjang bedengan dibuat maksimal 8 m. Hal ini untuk memudahkan pembuangan air waktu hujan maupun pada saat mengairi.

Bedengan membujur atau memanjang ke arah timur-barat agar cahaya matahari dapat diterima secara merata ke seluruh tanaman. Parit-parit untuk saluran irigasi dibuat dengan ukuran lebar 40 cm. Lebar parit tersebut cukup ideal untuk mengairi bedengan dan untuk jalan.

Lebar parit yang terlalu sempit dapat menyulitkan pengairan dan pemeliharaan tanaman (penyemprotan pestisida, penyemprotan pupuk daunt dan lain sebagainya). Sedangkan parit-parit untuk pembuangan air (salauran drainase) dibuat pada sekeliling petak bedengan dengan lebar berukuran 50 cm (lebih lebar dari parit irigasi).

Sehingga dengan demikian pembuangan air akan lebih lancar dan dapat mencegah genangan air. Kedalaman parit untuk saluran irigasi dibuat sedalam 30 cm. Kedalam parit ini juga merupakan tinggi bedengan.

Sedangkan kedalaman parit untuksaluran darinase dibuat sedalam 50 cm. Kedalaman pant irigasi dan parit drainase sangat berpengaruh terhadap kelancaran pengairan dan pembuangan air.

bedengan kacang hijau

Gambar Konstruksi bedengan dan parit untuk penanaman kacang hijau.

Keterangan:

a. Tinggi bedengan: 30 cm (lahan sawah beririgasi teknis), 50 cm (sawah tadah hujan), 40 cm (lahan keringitegalan), 80 cm (lahan gambut).

b. Lebar bedengan 4 m.

c. Lebar parit: 40 cm (lahan sawah beririgasi teknis 0,50 cm (lahan sawah tadah hujan), 40 cm (lahan kering atau tegalan), 50 cm (lahan gambut).

d. Arah bedengan memanjang ke arah timur-barat.


Pengapuran Tanah

Pengapuran tanah dilakukan bila keasaman tanah (pH tanah) kurang dari 5,8. Apabila tanahnya telah sesuai dengan syarat tumbuhnya tanaman kacang hijau (pH tanah 5,8-6,5), maka tidak perlu dilakukan pengapuran tanah. Sebelum dilakukan pengapuran tanah, hendaknya dilakukan pengukuran pH tanah terlebih dahulu. Caranya adalah sebagai berikut:

a) Tanah diambil secara acak dan merata pada petak kebun.

b) Tanah yang telah diambil, kemudian dicampur hingga merata. Lalu, tanah diambil secukupnya kira-kira satu cangkul.

c) Tanah yang satu cangkul tersebut dimasukkan ke dalam ember yang berisi air, lalu dibiarkan sampai mengendap.

d) Setelah tanah mengendap, air dipisahkan dari endapan tanah ke dalam ember yang lain.

e) Selanjutnya, air tersebut diukur pH-nya dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter. Nilai pH menunjukkan derajat keasaman tanah.

f) Setelah pH tanahnya diketahui dan nilainya kurang dari 5,8 maka segera dilakukan pengapuran tanah.

Pengukuran pH tanah selain menggunakan kertas lakmus dan atau pH meter, dapat juga dilakukan dengan menggunakan “pH tester’ dan “soil tester”.

Cara penggunaan alat pengukur tersebut dengan ditancapkan kedalam tanah sampai kedalaman tertentu, setelah 3 menit akan terlihat nilai pH tanah ditunjukkan oleh jarum skala pada alat tersebut. Penggunaan alat pH tester dan soil tester dijalankan dengan batere.

Kapur yang dapat digunakan untuk pengapuran tanah dapat berupa kapur tohor, kapur karbonat, atau kapur tembok. Kapur tohor juga dikenal dengan sebutan kapur sirih. Sedangkan kapur karbonat dikenal ada dua macam yaitu kalsit dan dolomit.

Kalsit atau kalsium karbonat (CaCo3) mengandung kalsium 44%, sedangkan dolomit (CaMg (Co3)3, mengandung magnesium 19,5% dan mengandung kalsium 30,5%. Kapur tembok juga dikenal dengan nama kapur hidroksida.

Pengapuran tanah dilakukan dengan cara kapur ditebar secara merata pada permukaan tanah, kemudian tanah dicangkul tipis-tipis agar kapur bercampur rata dengan tanah. Untuk menaikkan pH tanah sebesar 0,1 diperlukan kapur dolomit sekitar 312 kg/ha.

Pengapuran tanah dilakukan 2 minggu sebelum tanam. Sebab, pengapuran tanah yang dilakukan secara langsung setelah penanaman dapat mematikan tanaman.


Penanaman Benih Kacang Hijau

Benih atau biji kacang hijau dapat langsung ditanam di kebun tanpa melalui persemaian terlebih dahulu. Agar benih yang ditanam tumbuh baik, maka benih yang akan ditanam harus utuh (tidak cacat, luka, atau pecah), ukurannya seragam, tidak terserang hama maupun penyakit, tidak tercampur dengan varietas lain, tidak keriput, dan bentuknya normal.

Selain itu, penanaman benih kacang hijau juga harus memperhatikan pemilihan waktu tanam, jarak tanam, dan cara penanaman.

1) Pemilihan Waktu Tanam

Tanaman kacang hijau tidak dapat tumbuh dengan baik pada kondisi tanah becek atau tergenang air secara terus menerus dalam jangka waktu lama. Curah hujan yang terlalu tinggi pada awal pertumbuhan mengakibatkan tanaman tumbuh kerdil dan curah hujan yang tinggi pada saat tanaman menjelang panen akan membusukkan polong dan biji-biji.

Waktu yang tepat untuk penanaman kacang hijau di lahan sawah beririgasi teknis bekas padi dilakukan bulan April-Mei dan atau bulan Juli-Agustus. Pemilihan waktu tanam kacang hijau yang tepat tersebutjuga berkaitan dengan waktu rotasi tanam dengan tanaman pad( yakni kacang hijau ditanam setelah dua musim tanam padi.

2) Jarak Tanam

Jumlah populasi tanaman per-satuan luas lahan berpengaruh terhadap hasil panen. Dengan jumlah populasi tanaman yang optimal diharapkan dapat diperoleh hasil panen yang tinggi. Jumlah populasi tanaman per satuan luas lahan berkaitan dengan jarak tanam yang ditetapkan.

Jarak tanam yang dianjurkan untuk pertanaman kacang hijau sangat bervariasi, yakni 40 cm x 15 cm atau 50 cm x 10 cm (jarak tanam agak renggang sampai dengan renggang), 20 cm x 20 cm (jarak tanam rapat). Jumlah tanaman untuk areal tanah seluas 1 hektar pada jarak tanam 40 cm x 15 cm, 50 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm adalah 333.332 populasi tanaman, 400.000 populasi tanaman, 500.000 populasi tanaman.

Penetapan jarak tanam pada lahan tanam dilakukan dengan menggunakan tali rafia yang telah diberi tanda sesuai dengan jarak tanam yang telah ditentukan. Kemudian tali rafia dipancang pada bagian tepi bedengan.

Gambar jarak tanam kacang hijau

Jarak Tanam Kacang Hijau

Keterangan:

a. Jarak tanaman atau barisan tanaman 20 cm, 40 cm atau 50 cm (untuk penanaman cli lahan sawah beririgasi teknis, lahan keringftegalan, clan lahan sawah tadah hujan), clan 30 cm (untuk penanaman di lahan pasang surut sulfat masam).

b. Jarak tanam dalam barisan tanaman 2 cm, 1,5 cm atau 10 cm (untuk penanaman di lahan sawah tadah hujan), clan 10 cm (untuk penanaman di lahan pasang surut sulfat masam).

3) Cara Penanaman

Penanaman benih kacang hijau di kebun dapat dilakukan dengan cara tugal, dan atau mesin penanam. Penanaman benih kacang hijau dengan cara tugal adalah sebagai berikut: dengan menggunakan alat tugal, tanah dilubangi sedalam 3-5 cm.

Lubang tanam dibuat tepat pada titik-titik tanam yang telah ditetapkan sesuai dengan jarak tanamnya. Selanjutnya benih dimasukkan ke dalam lubang tanam dan setiap lubang tanam diisi 4 biji, kemudian lubang ditutup dengan tanah. Bila benih telah tumbuh, kemudian diperjarang menjadi 3 tanaman per lubang.

Setelah benih ditanam, kemudian diairi (disiram air) sampai merata. Pada lahan seluas 1 hektar, penanaman dengan cara tugal diperlukan tenaga kerja 8-10 HKSP. Tugal adalah alat pelubang tanam yang terbuat dari kayu berukuran panjang1,5 m dengan diameter 5 cm dan bagian ujungnya sepanjang 4 cm diruncingkan.

lubang tanam kacang hijau

Keterangan: Tanah dilubangi dengan tuga sedalam 3-5 cm. lalu benih di masukkan ke dalam lubang dan di tutup tanah. Benih yang ditanam terlalu dangkal tidak dapat berkecambah dan bila di tanam terlalu dalam: benih yang berkecambah membusuk.

Penanaman benih kacang hijau dengan mesin penanam dapat lebih cepat dan efisien, karena dengan tenaga kerja 1 orang selama 1 hari (1 HKSP) dapat menyelesaikan penanaman 30-40 hektar.

Efisiensi penggunaan mesin penanam dapat dicapai bila areal yang akan ditanami sangat luas (minimal 100 ha), lahan datar, tanah tidak berbatu-batu dan tidak bertunggul kayu, tersedia tenaga teknis yang cakap dalam mengelola dan merawat mesin penanam, dan harga komoditas yang cukup baik.

Sehingga dengan demikian, cara penanaman kacang hijau dengan mesin penanam hanya bisa diterapkan pada usaha tani kacang hijau yang berskala besar. Kedalaman tanam sangat berpengaruh terhadap perkecambahan benih. Bila benih ditanam terlalu dangkal, maka benih tidak dapat berkecambah.

Sedangkan apabila benih ditanam terlalu dalam lebih dari 5 cm. maka benih dapat menjadi busuk atau kalaupun berkecambah, maka bibit tidak dapat muncul di atas permukaan tanah, sehingga akhirnya bibit akan membusuk di dalam tanah.


Desinfektan Benih

Untuk mencegah benih yang telah ditanam diserang hama, misalnya semut, rayap, dan lain sebagainya, maka setelah benih ditanam, sebaiknya juga diberikan furadan pada lubang tanam atau di sekitar lubang tanam. Furadan diberikan bersamaan pada saat tanam dengan dosis 8 kg/ha yang disebarkan secara merata di permukaan tanah atau 0,50 g setiap lubang tanam.


Pemberian Mulsa

Pemberian mulsa berupa jerami padi kering sebanyak 5 ton/ha dapat meningkatkan hasil hingga 40% jika dibandingkan dengan pertanaman Kacang Hijau yang tidak diberi mulsa (Balittan Pangan, 1991).

Pemberian mulsa jerami padi pada pertanaman kacang hijau dapat meningkatkan laju tumbuh relatif dan produksi polong sebagai akibat dari penekanan pertumbuhan gulma, serangan lalat bibit, penguapan air tanah, serta memperlambat proses pengerasan dan peretakan tanah.

Pemberian mulsa berupa jerami padi kering dilakukan setelah benih kacang hijau ditanam dengan cara jerami dihamparkan hingga merata setebal 3-5 cm di permukaan lahan.


Penyulaman

Penyulaman pada usaha tani kacang hijau adalah merupakan kegiatan mengganti benih yang mati (tidak tumbuh). Penyulaman benih (biji) pada tanaman Kacang Hijau hanya dilakukan satu kali saja, yaitu dilakukan 4-15 hari setelah tanam.

Penyulaman ini hanya dilakukan bila benih yang tidak tumbuh berkisar antara 10%-25%. Apabila benih yang tidak tumbuh sampai melebihi 40%, maka sebaiknya semua diganti. Kemudian penyiapan lahan dan seleksi benih dikerjakan yang lebih baik lagi.

Penyulaman benih dilakukan sebagai berikut: benih yang mati diambil, kemudian dibuat lubang tanam lagi ditempat tersebut, lubang tanam dibersihkan dan bila perlu diberi Furadan 0,5 g, misalnya apabila terlihat banyak semut, rayap, dan serangga lain di lubang tanam tersebut.

Setelah itu, benih yang baru dimasukkan pada lubang tanam tersebut sebanyak 4 biji, lalu lubang tanam ditutup tanah dan mulsa jerami. Selesai penanaman benih segera dilakukan penyiraman. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada sore hari.


Penyiraman

Air sangat diperlukan untuk proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman. Kerusakan akibat kekeringan adalah daun-daun cepat tua dan mudah rontok, dan tanaman tumbuh kerdil. Kekurangan air pada fase generatif (saat berbunga, pembentukan polong, dan pengisian polong) akan mengakibatkan inisiasi bunga dan jumlah bunga yang terbentuk sedikit, dan selanjutnya persarian terganggu karena mengeringnya tepungsari dan putik.

Sehingga dengan demikian tanaman gagal melakukan pembentukan polong dan pengisian polong. Akibatnya produksi sangat rendah atau bahkan bisa terjadi gagal panen. Kekurangan air pada fase perkecambahan menyebabkan benih tidak dapat berkecambah.

Di samping itu, kekurangan air juga menyebabkan perkembangan akar dan bintil-bintil akar terhambat.

Air yang berlebihan juga akan menurunkan pertumbuhan tanaman dan hasil panen. Tanaman kacang hijau yang tergenangi air dalam jangka waktu lama, menyebabkan tanaman tidak dapat menyerap air sehingga terjadi kekurangan air pada daun.

Dalam keadaan parah, tanaman menjadi kurang mampu menyerap zat hara, batang menebal, terbentuknya kalus pada akar, daun cepat menua (senesen), daun-daun rontok dimulai dari daun bagian bawah. Di samping itu, genangan air yang berkepanjangan akan meningkatkan kadar karbondioksida (00,). sulfida, etilen, asam organik, besi, dan mangan dalam bentuk tereduksi, sedangkan kandungan oksigen di dalam tanah sangat sedikit.

Keadaan ini akan sangat membahayakan kehidupan tanaman. Gejala yang tampak akibat air yang berlebihan pada pertanaman kacang hijau adalah timbulnya bercak kuning pada daun atau daun menjadi hijau muda, kuning, atau bahkan putih (gejala klorosis).

Air yang berlebihan pada fase pertumbuhan dapat menggagalkan benih berkecambah. Kelebihan air pada fase generatif akan menyebabkan pembentukan polong terhambat dan polong banyak yang gugur. Sehingga dengan demikian tanaman kacang hijau sangat peka terhadap kekeringan dan kelebihan air.

Untuk memperoleh pertumbuhan tanaman kacang hijau yang balk dan produksinya tinggi diperlukan air dalam jumlah yang cukup. Untuk perkecambahan biji diperlukan kelembaban tanah sekitar 50%.

Dan uraian diatas, dapat disimpulkan air sangat diperlukan selama masa perkecambahan, awal pertumbuhan bibit, pembangunan, pembentukan polong hingga pengisian polong. Kekurangan air pada fase-fase kritis tersebut akan menurunkan hasil panen.

Cara pemberian air pengairan pada lahan sawah beririgasi teknis dapat dilakukan dengan menggunakan sistem “leb”, yaitu menggenangi kebun melalui parit-parit di antara bedengan. Air disalurkan melalui jaringan irigasi, lalu dibiarkan menggenang beberapa saat (15-30 menit) sampai bedengan tampak cukup basah (dalam kondisi kapasitas lapang).

Apabila air yang diberikan sudah cukup, air segera dikeluarkan dari kebun melalui saluran pembuangan air (selokan drainase). Tanaman kacang hijau sudah bisa dikatakan mulai menderita kekeringan bila tanah sedalam 5-10 cm telah kering. Pada kondisi tersebut, pertanaman kacang hijau harus segera diairi.

Apabila tidak ada hujan, pengairan dapat dilakukan dengan selang waktu 10 hari sekali. Penyiraman harus dihentikan seminggu menjelang polong dipanen karena pada kondisi tersebut tanaman sudah tidak memerlukan air lagi.


Pemupukan

Pemupukan tanaman kacang hijau yang ditanam di lahan sawah bekas padi umumnya kurang responsif, karena pada lahan bekas padi sawah telah terus menerus dipupuk NPK. Dari beberapa hasil pemelitian melaporkan bahwa pemberian pupuk NPK pada tanaman kacang hijau di lahan sawah yang padinya telah mendapat pupuk NPK tidak menunjukkan peningkatan hasil pada kacang hijau.

Akan tetapi, walaupun belum diperoleh data yang mantap tentang manfaat pemberian pupuk NPK untuk tanaman kacang hijau di lahan sawah bekas tanaman padi, namun telah disusun dosis anjuran pupuk NPK bagi tanaman kacang hijau pada lahan sawah yang secara terus menerus padinya telah dipupuk NPK adalah berkisar antara 50 kg urea/ha, 125 kg SP-36/ha, dan 50 kgKcl/ha (Balittan Pangan, 1993).

Pemberian pupuk NPK ini bersifat hanya untuk memberikan jaminan ketersediaan hara bagi tanaman kacang hijau agar tetap diperoleh hasil yang maksimal. Pemberian pupuk phospat (P) sangat penting untuk pertumbuhan akar, bintil akar, dan pembungaan.

Pemberian pupuk kalium (K) sangat penting untuk pertumbuhan tanaman, pembentukan polong dan biji. Dan pembelian pupuk Nitrogen (N) sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman, seperti pembentukan batang, cabang atau ranting, dan daun.

Pemberian pupuk NPK yang berlebihan maupun kekurangan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panen.

Pemupukan NPK selain dilakukan melalui tanah sebaiknya juga dilakukan melalui daun. Beberapa keuntungan pemupukan melalui daun, antara lain adalah menghindari terjadi kompetisi pengambilan unsur hara dalam tanah, menghindari kerusakan tanah akibat pemupukan melalui tanah yang terlalu berat, tidak ada unsur hara yang terbuang, efisiensi penggunaan pupuk sangat tinggi karena diberikan langsung ke tempat metabolisme.

Dan juga merangsang kegiatan jasad mikro berguna yang menghuni daun, tidak mencemari lingkungan, tidak mematikan musuh alami pengganggu tumbuh tanaman, dapat dicampur pestisida tanpa kehilangan khasiatnya, tanaman tumbuh cepat, perakaran tumbuh lebat dan kuat, merangsang tanaman cepat berbunga dan berbuah, dan lain sebagainya.

Pupuk urea, SP-36, dan Kcl diberikan 1 hari sebelum tanam atau diberikan bersamaan pada saat tanam, dan pupuk diberikan sekaligus. Pemberian pupuk urea, SP-36. dan Kcl dapat juga diberikan secara bertahap sebagai berikut:

Pemupukan Pertama diberikan 1 hari sebelum tanam atau pada saat tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah seluruh dosis SP-36 ditambah setengah dosis Kcl.

Pemupukan Kedua diberikan 30 hari setelah tanam terdiri atas setengah dosis urea ditambah setengah dosis Kcl.

Pemberian pupuk urea, SP-36, dan Kcl melalui tanah dilakukan dengan cara disebar secara merata pada petakan atau bedengan. Kemudian tanah diolah secara ringan (dicangkul tipis-tipis).

Sedangkan pemberian pupuk daun yang dilakukan lewat daun, caranya adalah sebagai berikut: pupuk daun diencerkan terlebih dahulu dengan air sesuai dosis yang tercantum pada label kemasan menurut fase pertumbuhan tanaman dan merk pupuk daun yang digunakan.

Selanjutnya, larutan pupuk daun yang telah diencerkan dengan penambahan air disemprotkan pada daun tanaman. Penyemprotan harus dilakukan dipemiukaan daun bagian bawah, karena pada tempat tersebut stomata berada.

Apabila disemprotkan di pemiukaan daun sebelah atas maka pupuk daun tidak akan atau sulit diserap daun sehingga pemupukan lewat daun akan gagal.

Penyemprotan pupuk daun dapat dilakukan kapan saja (pagi, siang, atau sore) selama tidak ada angin dan diperkirakan tidak akan jatuh hujan 2-3 jam setelah penyemprotan. Penyemprotan pupuk daun tidak efektif bila ada angin kencang dan ada hujan sebelum 2-3 jam penyemprotan.

penaburan pupuk dalam budidaya kacang hijau

Gambar 4.9 Pemberian pupuk dengan menaburkan dalam lubang yang dibuat di sekitar pangkal batang tanaman.


Penyiangan Gulma

Gulma dan rerumputan merupakan tanaman pengganggu yang sangat merugikan bagi tanaman kacang hijau. Tanaman kacang hijau kurang mampu bersaing dengan gulma dan rumput, sehingga apabila gulma dan rumput tidak dikendalikan dapat menurunkan hasil panen kacang hijau mencapai 60% (Balittan Malang, 1993).

Oleh karena itu, pengendalian gulma dan rumput harus dilakukan dengan balk. Pada budi daya kacang hijau tanpa menggunakan mulsa jerami, pengendalian gulma dan rumput dapat dilakukan ketika tanaman berumur 2 minggu dan 30 hari. Apabila gulma dan rumput tumbuh banyak, penyiangan dapat dilakukan lebih sering.

Pada budi daya kacang hijau dengan menggunakan mulsa jerami, penyiangan cukup dilakukan satu kali saja pada saat tanaman menjelang berbunga. Karena pemberian mulsa jerami dapat menekan pertumbuhan gulma sekitar 61%.

Tanaman kacang hijau dapat tumbuh baik dan produksinya tinggi apabila tanaman terbebas dari gulma semenjak umur 1-40 hari. Pengendalian gulma dan rumput dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1) Secara manual. yakni gulma dan rumput yang tumbuh di sekitar tanaman dicabuti dengan tangan atau dibantu dengan alat pencungkil (kored) sedangkan gulma dan rumput diselokan (parit-parit) dilakukan dengan menggunakan cangkul.

2) Secara mekanik. yakni pencabutan gulma dan rumput dilakukan dengan menggunakan peralatan mesin dari yang sederhana sampai yang modern. Salah satu alat mekanik penyiang rumput (gulma) yang sederhana adalah alat penyiang lahan kering (cono weeder).

3) Secara kimiawi, yakni pengendalian gulma dan rumput dilakukan dengan menggunakan obat-obatan pembunuh rumput dan gulma (herbisida). Beberapa jenis herbisida yang dapat digunakan untuk memberantas gulma dan rumput, antara lain adalah Actril DS, Feminine 720 AS, Fusilade 25 EC, Roundoup. Saturin 500/50 EC, Lasso 480 EC, dan lain sebagainya.


Pengendalian Hama Dan Penyakit

Untuk mencegah dan mengantisipasi serangan hama dan penyakit dalam menanam kacang hijau sebaiknya ketahui beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman kacang hijau. silahkan baca artikel berikut yang di ulas secara lengkap.

Baca Juga : Pengendalian Hama Kacang Hijau

 Penyakit Tanaman Kacang Hijau


Panen Kacang Hijau

Panen kacang hijau harus dilakukan sesuai dengan umur panen tanaman. Sebab, bila panen kacang hijau dilakukan setelah melewati umur panen, maka hasilnya akan turun.

Menurunnya hasil panen tersebut karena polong sudah banyak yang pecah sehingga biji-biji kacang hijau banyak yang sudah berjatuhan ke tanah. Pemanenan yang dilakukan tidak sesuai dengan umur panen optimum tanaman akan berpengaruh terhadap kualitas biji dan daya kecambah biji.

Biji kacang hijau yang dipanen sesuai dengan umur panen akan memiliki kualitas yang baik dan memiliki daya kecambah yang tinggi.

Sedangkan biji yang dipanen sebelum umur panen optimum akan berkerut sewaktu proses pengeringan, akibatnya kualitas biji menjadi jelek.Apabila dipanen setelah melewati umur panen optimum akan diperoleh banyak biji yang rusak akibat deraan panas dan dingin dilapangan.

Sehingga kualitas biji menjadi rendah dan daya kecambah biji juga menjadi rendah. Di samping itu, penundaan panen hingga beberapa minggu pada waktu musim hujan mengakibatkan biji-biji kacang hijau membusuk ditumbuhi cendawan.

Penundaan panen beberapa minggu pada waktu musim kemarau menyebabkan polong terlalu kering, dan pecah. Panen yang dilakukan terlalu muda menyebabkan biji mudah rusak dan berjamur. Pemanenan polong kacang hijau dapat dilakukan secara bertahap atau dilakukan secara serempak, tergantung dari varietas yang ditanam.

Beberapa varietas dipanen serempak karena polongnya masak serempak dan beberapa varietas harus dipanen bertahap hingga 3 kali pemetikan karena varietas kacang hijau tersebut polongnya masak tidak serempak.

1. Umur Panen Kacang Hijau.

Umur panen kacang hijau bervariasi, tergantung dari varietasnya, daerah penanaman, clan musim. Varietas kacang hijau yang tergolong genjah (berumur pendek) memiliki umur panen 58-65 hari setelah tanam (hst), varietas kacang hijau yang berumur panjang memiliki umur panen 100 hst Daerah penanaman berpengaruh terhadap umur panen.

Varietas yang ditanam di dataran tinggi pada ketinggian lebih dari 750 m dpl umur panennya akan lebih panjang dibandingkan dengan yang ditanam di dataran rendah.

Umur panen yang telah diterangkan di atas merupakan umur panen masak petik dimana penggunaan kacang hijau untuk industri taoge, bubur, kue-kue, pakan ternak, makanan bayi dan untuk benih. Umur panen tanaman kacang hijau dapat juga ditentukan berdasarkan keadaan fisik tanaman.

Secara fisik, tanaman kacang hijau yang sudah dapat dipanen memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Polong berwarna coklat sampai hitam dan kulitnya telah mengering.

b. Daun-daun telah menguning dan telah banyak yang rontok.

c. Polong mudah dipecahkan.

2. Can Pemanenan.

Cara pemanenan kacang hijau adalah polong dipetik satu per satu dengan menggunakan tangan, karena polong kacang hijau tidak masak serempak. Namun ada beberapa varietas kacang hijau yang polongnya matang serempak.

Untuk varietas kacang hijau yang polongnya matang serempak, pemanenan dapat dilakukan dengan cara memotong tangkai-tangkai polong menggunakan sabit atau pisau yang tar, kemudian polong kacang hijau dikumpulkan ditempat yang teduh (base camp).

3. Waktu Pemanenan.

Pemanenan kacang hijau sebaiknya dilakukan pada pagi hari pada saat cuaca cerah (tidak hujan). Pemanenan yang dilakukan pada saat hujan dapat menyebabkan biji rusak setelah dilakukan pengumpulan dan penumpukan di gudang.


Penanganan Pasca Panen Kacang Hijau

Penanganan pasca panen kacang hijau meliputi pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:

1. Pengeringan Polong.

Pengeringan polong kacang hijau harus segera dilakukan selesai pemanenan. Sebab, penundaan pengeringan akan menurunkan kualitas biji, meningkatkan butir rusak, dan penurunan berat kering biji. Di samping itu, juga untuk memudahkan proses pembijian atau perontokan biji.

Cara pengering an polong kacang hijau dapat dilakukan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari, atau dengan alat pengering. Pengeringan dengan cara dijemur, yaitu:

Polong dihamparkan dilantai penjemuran dari semen atau dihamparkan pada alas anyaman bambu. Hal ini untuk menghindari kacang hijau bercampur dengan tanah atau kerikil.

Penjemuran selama 2-3 hari pada saat cuaca cerah, biasanya polong telah kering dan mudah dibijikan.

2. Perontokan Biji (Pembijian).

Perontokan biji atau pembijian kacang hijau dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

a. Perontokan kacang hijau secara tradisional.

Perontokan kacang hijau dengan cara tradisional adalah polong yang telah kering ditumpuk atau dimasukkan ke dalam karung goni, lalu dipukul-pukul dengan menggunakan geblok atau gebug yang terbuat dari kayu sampai polong hancur.

Selanjutnya kulit polong dipisahkan dari biji-biji kacang hijau dengan cara ditampi menggunakan nyiru (jawa: tampah).

Biji-biji yang busuk dan cacat, kerikil, dan tanah juga hams dipisahkan (dibuang). Perontokan kacang hijau secara tradisional tidak menguntungkan karena memiliki banyak kelemahan, antara lain:

kehilangan hasil tinggi, mutu fisik biji menjadi rendah (banyak biji patah/rusak), tenaga kerja yang diperlukan banyak, memerlukan waktu lama, dan biaya tinggi.

b. Perontokan kacang hljau dengan pedal.

Perontokan kacang hijau dengan pedal dapat dilakukan dengan pedal injak dan pedal kontinyu. Perontokan kacang hijau dengan pedal memberikan hasil yang lebih baik dari perontokan secara tradisional, baik ditinjau dari kapasitas kerja dan mutu fisik biji kacang hijau.

Akan tetapi kehilangan hasil dengan cara perontokan pedal tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dengan perontokan secara tradisional. Kapasitas kerja alat perontok pedal lebih tinggi dari pada alat perontok tradisional.

Astuti,dkk. 1994, melaporkan kapasitas kerja perontok pedal injak adalah 11.60 kg/jam/orang dan perontok pedal kontinyu adalah 11,00 kg/jam/orang.

c. Perontokan kacang hijau dengan mesin.

Perontokan kacang hijau dengan menggunakan mesin dapat mempertahankan mutu kacang hijau, kehilangan hash! rendah, tenaga kerja yang diperlukan sedikit, menghemat waktu, menghemat biaya, dan dapat meningkatkan produktifidas petani.

Mesin perontok kacang hijau memiliki kapasitas perontok bervariasi,dari yang rendah (17,42 kg/jam) sampai dengan yang tinggi (80,40 kg/jam).

Dengan menggunakan mesin perontok kacang hijau berkapasitas perontokan 80,40 kg/jam/orang akan menghasilkan biji utuh 98% atau biji rusak 2% dan persentase kotoran 6,5%. Alat (mesin) perontok kacang hijau yang dipakai ini juga biasa digunakan untuk merontok padi.

Cara melakukan perontokan kacang hijau dengan mesin perontok adalah sebagai berikut:

1) Polong kacang hijau yang sudah dikeringkan dibasahi dengan disiram air sec ukupnya terlebih dahulu. Tujuannya untuk mencegah biji-biji pada saat dirontok tidak pecah.

2) Disiapkan ember penampung biji kacang hijau, lalu ember diletakkan dibawah saluran pengeluaran biji kacang hijau hasil dirontok.

3). Polong kacang hijau yang telah dibasahi dimasukkan ke dalam corong penampungan. 4) Roda diputar (mesin dihidupkan), maka kacang polong hijau akan dikupas dan biji kacang hijau kupasan akan keluar melalui saluran pengeluaran biji.

3. Pembersihan Kotoran.

Selesai perontokan biji, selanjutnya dilakukan pembersihan biji dan kotoran. Pembersihan kotoran bertujuan untuk membersihkan biji dari kotoran (kulit pobng, kerikil, dan lain sebagainya), meningkatkan daya simpan biji, dan meningkatkan kualitas biji.

Cara pembersihan kotoran selesai perontokan biji dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:

a. Ditampi, yaitu biji kacang hijau yang bercampur dengan kotoran dimasukkan dalam wadah (jawa: tampah) kemudian tampah digerakkan naik-turun hingga biji terpisah dari kotoran, lalu kotoran diambil dan dibuang.

b. Menggunakan kipas (blower), yaitu biji kacang hijau yang bercampur dengan kotoran dihembus oleh kipas hingga kotoran-kotoran ringan akan terhembus dan terpisah.

c. Menggunakan mesin pembersih (mesin penampi) yaitu kombinasi ayakan dengan blower.

4. Pengeringan Biji kacang hijau.

Selesai perontokan biji, biji kacang hijau harus segera dikeringkan lagi hingga Radar air biji di bawah 12% (sekitar 10%). Biji kacang hijau yang baru dirontok umumnya kadar aimya masih tinggi.

Sehingga dengan demikian apabila biji yang baru dirontok tidak dikeringkan lagi akan mudah busuk dan mudah terserang hama gudang. Pengeringan biji kacang hijau dapat dilakukan dengan cam dijemur dibawah sinar matahari atau dengan menggunakan mesin pengering.

Pengeringan biji dengan cara dijemur adalah sebagai berikut: biji kacang hijau dihamparkan pada lantai jemur yang telah diberi alas plastik tenda atau terpal atau biji kacang hijau diletakkan pada nyiru (jawa: tampah)yang ditata dilantai jemur. Penjemuran selama 3-4 hari pada saat cuaca cerah biasanya biji telah kering dengan kadar air berkisar antara 8-12%.

5. Pengemasan Biji Kacang Hijau.

Biji kacang hijau yang telah kering dengan kadar air sekitar 10-12% dapat dikemas ke dalam karung goni, kantong plastik, kaleng (blek), dan karung plastik.

Pengemasan biji kacang hijau dapat dilakukan secara tersendiri dalam satu macam kantong, misalnya hanya menggunakan karung goni, atau kantong plastik saja ataupun pengemasan dengan menggunakan pengemas kantong plastik polyethylene yang dirangkap dengan karung goni.

Apabila biji kacang hijau akan segera dijual maka biji-biji kacang hijau cukup dikemas dalam karung goni, karung plastik, atau kantong plastik polyethylene saja. Namun, apabila biji-biji kacang hijau akan disimpan lama, sebaiknya pengemasan menggunakan dua kantong, yaitu pengemas kantong polyethylene yang dirangkap dengan karung goni.

Cara mengemas biji kacang hijau adalah sebagai berikut: biji kacang hijau dimasukkan ke dalam kantong pengemas sebanyak 20 kg-50 kg, kemudian kantong pengemas ditutup dengan sistem rapat udara (dijahit atau diikat dengan kuat).

Apabila pengemasan dengan kantong rangkap caranya, adalah biji dimasukkan ke dalam kantong plastik polyethylene sebanyak 50 kg, kemudian dimasukkan ke dalam karung goni, kantong plastik polyethyelene ditutup dengan sistem rapat udara, sedangkan karung goni dijahit yang rapat dan rapi.

6. Penyimpanan Biji Kacang Hijau.

Di dalam kegiatan menyimpan biji kacang hijau banyak hal yang harus diperhatikan agar biji kacang hijau tidak lekas rusak, antara lain adalah ruang penyimpanan, kelembaban udara, dan penyusunan kemasan di dalam ruang penyimpanan (gudang).

Ruangan penyimpanan atau gudang penyimpanan harus memiliki ventilasi yang baik dan tersedia sarana penerangan yang memadai. Sehingga dengan demikian kelembaban udara yang tinggi dapat dicegah dan udara di dalam gudang tetap kering.

Kelembaban udara yang tinggi di dalam gudang akan meningkatkan kadar air biji kedele yang disimpan dan biji dapat terserang jamur dan hama gudang.

Penataan kemasan di dalam gudang penyimpanan harus ditata dengan baik dan teratur di atas papan kayu (berupa panggung) dan kemasan tidak menyentuh dinding agar aliran udara dapat berjalan baik dan udara lembab dari lantai dan dinding tidak dapat mencapai kantong.

Di dalam gudang juga harus disediakan jalan untuk keluar masuk pekerja.

Penyimpanan yang dilakukan lama (lebih dari 2 bulan), maka selama penyimpanan harus dilakukan penjemuran ulang setiap 2 bulan sekali, sehingga kadar biji kacang hijau mencapai 10-12% kembali.

Hal ini karena di Indonesia umumnya kelembaban udara di gudang berkisar antara 80-90% sehingga biji kacang hijau yang telah disimpan lama kadar air biji akan meningkat lebih dari 12%.

Pada suhu ruangan 25°C dengan kelembaban 90%, kadar air biji akan meningkat menjadi 18,8% apabila biji dikemas path wadah yang tidak kedap udara. Dengan mempertahankan kadar air biji 10-12% selama penyimpanan dapat mencegah biji diserang cendawan dan hama gudang.

Apabila paket teknologi penyimpanan diterapkan secara tepat dan benar, maka daya simpan biji kacang hijau dapat mencapai 1 tahun lebih.

Biji kacang hijau yang telah disimpan lama dan kadar air biji telah meningkat di atas 14% mudah diserang hama bubuk (Bruchus sp). Hama tersebut berupa kumbang kecil berwarna hitam yang memakan biji-biji kacang hijau.

Untuk mengendalikan dan mencegah hama gudang ini dapat dilakukan dengan inseksida, pembersihan gudang, biji yang rusak harus segera dibuang.

Tinggalkan Balasan