Cara Budidaya Ikan Nila – Ikan nila merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi di indonesia. Ikan nila juga menarik banyak perhatian para petani budidaya ikan air tawar untuk di tekuni sebagai peluang usaha.

Karena ikan nila memiliki beberapa keunggulan yang bisa lebih mudah untuk di kembangbiakan, selain itu juga banyak yang menyukai daging ikan nila yang gurih.

Pemasaran ikan nila juga sangat luas, baik di pasar lokal maupun luar negeri. Masyarakat terutama di jepang dan singapura sangat menyukai ikan ini.

Bentuk ikan nila menyerupai ikan laut yang sering sekali di anggap sebagai ikan kakap merah.

Prospek budidaya ikan nila cukup besar peluangnya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Namun perlu penanganan yang tepat dalam budidaya ikan nila agar hasil produksi budidaya dapat memenuhi sesuai kebutuhan konsumen.

Ikan Nila merupakan ikan air tawar asli hulu sungai Nil. Uganda yang bertahap menyebar ke berbagai daerah termasuk di indonesia.

Langkah Penting Cara Budidaya Ikan Nila

  1. Persiapan Lahan Sebagai Tempat atau Sistem Dalam Membudidayakan Ikan Nila.
  2. Mempersiapkan Kolam (membuat kolam)
  3. Menentukan Kualitas Air Kolam Dalam Budidaya.
  4. Pembesaran Ikan Nila.
  5. Perawatan Dan Pemberian Pakan.
  6. Pengendalian Hama Dan Penyakit
  7. Tahap Panen Dlam Budidaya Ikan Nila

Persiapan Lahan Dan Sistem Dalam Budidaya Ikan Nila

Cara budidaya ikan nila dapat di lakukan d berbagai tempat dan sistem proses budidaya yang berbeda. Baik itu di kolam air tenang, kolam air deras, dan juga menggunakan jaring apung atau keramba.

Pembesaran atau budidaya ikan nila dengan kolam air tenang banyak di lakukan di berbagai daerah contohnya di Cianjur, Purwokerto, dan Sukabumi.

Sedangkan kolam air deras banyak di lakukan daerah Subang, sementara untuk pembeasaran ikan nila menggunakan keramba atau jaring apung banyak di lakukan di daerah kabupaten bandung dan sekitarnya.

Hal ini menyangkut penyesuaian yang cocok agar proses budidaya dapat di lakukan dengan baik dan benar.

Masing-masing tempat dan sistem tersebut memiliki perlakuan yang berbeda-beda, yang akan kita bahas satu persatu di bawah ini.

Di Kolam Air Tenang

Di sebut kolam air tenang karena debit air di kolam ini relatif kecil, pergantian air pun relatif lama. Kolam ini biasanya di batasi oleh pematang yang terbuat dari tanah atau semen dan dengan dasar kolam tanah ataupun semen.

Peruntukan kolam ini dapat di gunakan dalam bermacam-macam proses, untuk indukan, untuk proses pemijahan biasanya memiliki luas 20-30 m², sedangkan kolam untuk pemdederan atau pembesaran lebih luas, yaitu sekitar 100-500 m², bahkan ada yang berukuran samapai 2000m².

Di buat 2 buah pitu air inletinlet (pintu tempat air masuk) dan outlet (pintu tempat air keluar).

Pada dasar kolam di buat juga satu cerukan di dekat outlet, untuk tempat ikan terkumpul nantinya pada waktu panen.

Dasar kolam di buat dengan kedalaman 1 meter di sekitar inlet dan menurun sekitar 1,2 meter di sekitat outlet.

Sebelum wadah di gunakan, dasar kolam harus di olah terlebih dahulu agar derajat keasaman sesuai, tidak ada racun dan menumbuhkan planktoon sebagai pakan alami nila nantinya.

Dapat di katakan sistem perwadahan ini sistem tradisional, karena debit airnya relatif kecil, sehingga kepadatan benih pada waktu awal pemeliharaan tidak dapat maksimal.

Pemgelolaan dasar kolam salah satu tujuanya adalah agar tumbuhnya pakan alami berupa planktoon atau lumutpakan sebagai pakan tamb

Sehingga dapat mengurangi pengeluaran pakan wajib. Untuk prosedur pengelolaan dasar kolam akan di bahas nanti.

Di kolam Air Deras

Istilah kolam air deras mengacu pada debit air yang tinggi (deras) pada aliran inlet dan outlet. Kecepatan air yang sangat besar pada aliran tersebut mangaliri kolam dan membuat air kolam cepat silih berganti dengan air yang baru.

Praktis semua kotoran dan cairan kimia dan gas akan di minimalisir sepanjang waktu.

Selain itu oksigen terdifusi lebih banyak ke dalam kolam, yang di hasilkan dari hempasan air yang deras sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan ikan.

Kekurangan pada budidaya ikan nila sistem air deras ini, kurangnya pakan alami sejenis planktoon dan lumut sehingga membutuhkan pakan tambahan alami dalam proses budidaya sistem air deras.

Untuk ukuran kolam air deras bisa dengan ukuran sedang atau kecil dan bisa memiliki kepadatan tebar benih ikan yang bisa setara dengan kolam yang memiliki lebih besar.

Biasanya 2 m² (3 x 7m), dengan kedalam 1 – 1,5 m. Kolam air deras pada umumnya untuk pendederan ke satu atau dua dan juga pembesaran.

Smentara untuk pembenihan dan pemijahan tidak bisa di lakukan dengan sistem kolam ini.

Buat dua aliran keluar masuknya air, jenis kolam ini bisa di lakukan di kolam semen dan fiber. agar tidak terjadinya pengikisan tanah jika di lakukan kolam tanah.

Menggunakan Jaring Apung Atau Keramba

Biasanya sistem ini dapat di lakukan di perairan-peraiaran umum, seperti sungai atau danau. dengan ukuran 7 x 7 x 1,5 meter.

Di mana mata jaringnya berukuran 0,5 inch untuk ikan 15 gram/ekor, atau menyesuaikan besar kcilnya ikan.

Untuk membangun tempat budidaya menggunakan jaring apung ini di butuh kan bahan-bahan sebagai berikut :

  • Pelampung rakit, terbuat dari batang bambu, drum besi, drum plastik, drum almunium, drum ferrocement dan busa plastik (Styrofoam).
  • Kerangka rakit terbuat dari batang bambu yang di susun dan di ikat atau juga dapat menggunakan kerangka besi dengan ukuran 0,3/3 cm atau 0,5/5 cm. sambungan besi dapat di las atau di ikat menggunakan kawat atau tali tambang.
  • Membuat jalan dari papan di atas sisi-sisi kerang jaring apung atau cukup pinggiranya saja.
  • Di beri bahan pemberat (jangkar) sebagai pemberat, dengan cara botol plastik yang di isi dengan pasir atau kerikil kemudian di ikatkan ke bagian bawah jaring.
  • Kantong atau wadah yang terbuat dari polyethylen sehingga tidak mudah di tempeli oleh lintah. Untuk ukuran dapat bervariasi dari 1 x 1 x 1 m³ untuk indukan 7 x 7 x 7 m³ untuk pembesaran.

Budidaya Ikan Nila Sistem Mina Padi

Budidaya ikan nila menggunakan sistem mina padi merupakan cara pembesaran atau pemeliharaan ikan di sekeliling tanaman padi yang berada di lahan bernentuk kolam.

Sebagai penyelang di antara 2 musim tanam padi dan untuk pembesaran ikan nila sebagai ganti tanaman palawija yang biasanya menggantikan tanaman padi di antara 2 musim tadi.

Untuk jenis ikan biasanya ada beberapajenis ikan yang dapat si budidayakan menggunakan sistem minapadi ini, seperti ikan mas dan ikan nila.

Agar tanaman padi tidak terganggu, pemeliharaan ikan di sawah harus di sesuaikan dengan sistem pengairan yang ada, sehingga produksi padi tidak terganggu.

Teknik budidaya mina padi untuk menghasilkan benih ikan umumnya menerapkan sistem tumpang sari dan sistem penyelang.

Sedangkan teknik budidaya padi untuk menghasilkan ikan konsumsi di lakukan dengan sistem tumpang sari dan palawija.

Dalam persiapan lahan, tanah di olah dengan sempurna sebaik mungkin sampai kedalaman 15-20 cm samapai perbandingan lumpur dan air 1:1.

Pematang di buat padat dan kokoh supaya tidak bocor dan longsor. Ukuran lebar dasar pematang 40-50 cm, lebar atas 30-40 cm dan tinggi 30-40 cm.

Pematang di bersihkan dari gulma agar tidak menjadi sarang hama yang bahi padi dan ikan.

Lapisi pematang dengan lumpur secara berkala agar bersih dan rapi. Setelah kering, lumpur pelapis pematang akan mengeras sehingga gulma tidak midah tumbuh.

Caren di buat sebelum pengolahan yanah di mulai di ukur sacara baik sehingga kedalamanya sesuai yang di kehendaki karena fungsi caren sebagai media hidup ikan, tempat pemberian makan ikan, untuk memudahkan ikan bergerak ke sekeliling petakan sawah serta memudahkan tahap panen dalam proses budidaya.

Beberapa persyaratan untuk budidaya ikan nila menggunakan sistem minapadiminapadi antara lain :

  • Wadah atau kolam yang di gunakan berupa petakan sawah yang mampu menampung air.
  • Wadah atau kolam sawah tersebut dapat dengan mudah di keringkan dengan smepurna.
  • Memiliki pintu aliran keluar dan masuknya air.
  • Dasar caren di buat miring ke lubang keluarnya aliran air agar dapat memudahkan melakukan pemgurasan dan tahap pemanenan.
  • Luas petakan sawah minimal 500 m².
  • Pematang harus benar-benar kuat untuk menahan masa air 30 cm.
  • Lebar caren minimum 1,5 dengan kedalaman dari peralatan minimum 0,5 cm.
  • Ukuran kobakan minimum 1,5 m x 1,5 m x 0,5 m.

Budidaya Ikan Nila Menggunakan Indoor System Hatchery

Sistem indoor hatchery merupakan salah satu alternatif pembesaran ikan atau budidaya ikan yang di lakukan di dalam ruangan dengan menggunakan bak fiber.

Sistem ini pada umunya di gunakan oleh para peneliti atau pembudidaya yang modern dan menerapkan sistem budidaya intensif.

Hal yang perlu di perhatikan dalam menggunakan sistem ini adalah rsirkulasi air dan pemberian aerasi.

Budidaya Ikan Nila Menggunakan Kolam Tanah

Dalam menentukan atau membuat kolam untuk budidaya ikan nila ada beberapa hal-hal penting yang perlu di perhatikan. Baik itu menggunakan kolam tanah, kolam terpal, dan kolam semen ataupun bak semen.

Berikut yang perlu di perhatikan terlebih dahulu dalam mempersiapkan kilam untuk budidaya ikan nila :

Pematang Kolam Pada Kolam Tanah

Pematang merupakan untuk menghindar dari kebocoran pada kolam dan juga mencegah terjadinya longsor pada pematang.

Sebaiknya pematang sudah di pastikan kuat terlebih dahulu untuk menapung itensitas air sebelum melakukan budidaya ikan nila.

Aerasi Pada Kolam Budidaya

Hal ini wajib dalam melakukan budidaya ikan, aerasi adalah di mana suatu proses pengelolaan oksigen pada air dengan cara menyipratkan air ke udara atau membuat gelembung-gelembung halus pada air tesebut.

Bisa juga dengan melakukan menyemprotkan air pada permukaan kolam agar terciptanya gelembung-gelembumg oksigen baru pada air.

Selain itu terdapat juga saluran air pembuangan pada dasar kolam, dengan cara membuat lubang menggunakan pipa-pipa yang di bolongi.

Hal ini dapat memudahkan pada tahap panen dan pergantian air ketika air sudah mulai kotor dan melakukan pergantian air.

Pengeringan Dan Pengolahan Pada Kolam Tanah

Jika budidaya di lakukan pada kolam tanah, wajib melakukan pengolahan pada dasar kolam dengan cara di keringkan terlebih dahulu.

Kemudian, sedikit di bajak atau di cangkul pemukaan tanah dan membuang sisa-sisa lumpur yang ada bertujuan untuk menghilangkan racun-racun dan gas kimia pada dasar kolam.

Melakukan Pemupukan Pada Kolam Terlebih Dahulu

Pemupukan pada dasar kolam bertujuan agar menyuburkan tanah dan menstabilkan keasaman tanah dan dapat menumbuhkan planktoon-planktoon serta lumut yang menjadikan pakan alami dalam budidaya ikan nila.

Pemupukan dapat di lakukan dengan pupuk kandang berupa kotoran ayam atau kotoran sapi dan sekam, di lakukan setelah pengeringan dan pembuangan lumpur-lumpur telah di lakukan.

Pupuk kandang bersifat organik, yang dapat menyuburkan tanah dan menumbuhkan pakan alami berguna untuk pertumbuhan yang baik pada ikan nila.

Jumlah pupuk yang di gunakan adalah 3 karung masing-masing 30 Kg, untuk tiap kolam berukuran 1000 m², atau 1 Kg/m².

Pengapuran Pada Dasar Kolam

Pengapuran pada dasar kolam di lakukan untuk menjaga kestabilan tingkat keasaman (pH) kolam dan di harapkan dapat mencegah berkembangnya hama dan penyakit.

Dosis pengapuran yamg di lakukan di BBI sentral Wanayasa (tempat budidaya ikan nila), adalah 25-50 gram /m².

Di mana kapur yang di gunakan adalah kapur yang biasa di gunakan pertanian yang tersedia di toko-toko pertanian.

Pengapuran di lakukan dengan cara di tebarkan secara merata di seluruh permukaan dasar kolam.

Berikut pengaruh baik bila di lakukanya pengapuran dalam budidaya ikan :

  • Menstabilkan keasaman atau pH pada kualitas lumpur nantinya.
  • Meningkatkan alkalinitas air, sehingga menambah pasokan CO² pada air kolam untuk fotosintesis.

Pengisian Air Kolam

Setelah persiapan kolam di lakukan, saat nya untuk mengisi air kolam setinggin 60 cm, kemudian di biarkan selam 2 hari dan di lakukanya penyemprotan pestisida Diazino 60 EC dengan dosis sebanyak 1ppm/kolam.

Diazinon merupakan pestisida organofosfat, penyemprotan dengan pestisoda ini bertujuan untuk membunuh crustacea dan serangga air lainya.

Kelbihan pada pestisida ini, tidak beresiko pada anak ikan dalam proses pembesaran.

Kualitas Air

Ikan nila merupakan ikan yang sangat toleran terhadap lingkunga baik itu menyangkut suhu, pH (keasaman), maupun kadar garam.

Oleh karena itu ikan nila dapat di budidayakan dengan berbagai macam lingkungan yang kurang baik ataupun yang baik, baik itu di air tawar maupun air payau.

Keadaan pH air untuk budidaya ikan nila di antara 5-11 yang masih dapat di toleran, pH optimal untuk budidaya ikan nila adalah 7-8.

Konsentrasi O² yang baik untuk pertumbuhan ikan adalah lebih besar dari 5 ppm.

Ikan nila hidup pada kisaran suhu antara 14- 30 °C. Untuk suhubyang di rekomendasikan dalam budidaya ikan nila adalah 25-30 °C.

Batas kosentrasi amonial (NH³) yang mematikan ikan berada pada 0,1-0,3 ppm.

Cara Pembesaran Dalam Budidaya Ikan Nila

Pembesaran pada ikan nila merupakan lanjutan dari usaha pembenihan atau pembibitan ikan nila. Pada umumnya peluang usaha dalam membudidayakan ikan nila terdapat 2 segmen, yaitu pembenihan dan pembesaran.

Pembesaran ikan di lakukan ketika umur benih sudah cukup besar untuk di lakukanya tahap pembesaran.

Dua segmen yang berbeda ini memiliki fokus yang berneda dalam melakukanya, maka dari itu untuk pembesaran ikan nila biasa petani membeli benih atau bibi ikan dari ptani-petani yang melakukan khusu pembibitan saja.

Agar kualitas benih pun menjadi lebih baik dan terjamin.

Terdapat beberapa sistem yang dapat kita gunakan dalam melakukan oembesaran ikan nila, di antaranya sebagai berikut :

Sistem Monokultur

Teknik budidaya ikan nila secara monokultur ialah, seluruh ikan nila dalam satu tempat hanya satu jenis ikan saja.

Dengan memisahkan antara jantan dan betina, karena dengan melakukan budidaya dengan sistem ini pertumbuhan keselurahan ikan akan seimbang.

Dengan menggunakan sistem monokultur dapat memudahkan petani budidaya dalam menentukan komoditi pakan yang perlu di sediakan.

Dan juga petani dapat lebih mudah mengelola dan mengatur waktu pemberiaan pakan yang tepat untuk ikan.

Sistem Monosex

Pemeliharaan dengan sistem ini, benih ikan yang di pelihara hanya satu jenis kelamin saja. Dengan membedakan antara betina dan jantan yang di pelihara secara terpisah.

Hal ini bertujuan untuk mencegah perkawinan antara betina dan jantan yang dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi terhambat.

Untuk ikan nila jantan sendiri lebih memiliki pertumbuhan yang lebih cepat darinpada betina.

Sehingga beberapa metode di lakukan untuk mengalihkan jenis kelamin jantan dan betina dengan menggunakan hormon, antara lain 17 a metilmetil testosteron, yang di terapkan melalui pakan dan perendaman pada air kolam.

Sistem Polikultur

Budidaya ikan nila dengan sistem ini, menggabungkan lebih dari satu jenis ikan dalam satu wadah, pada umumnya di lakukan di kolam air tenang dan keramba.

Pada sistem ini potensi pakan alami wadah di manfaatkan secara maksimal oleh berbagai spesies ikan.

Misalnya ikan nila dengan ikan bandeng, ikan bandeng akan memakan mikroalga pada dasar kolamkolam, sedangkan ikan nila akan memakan fitoplanktoon dan zooplanktoon serta fauna-fauna yang hidup secara alami.

Contoh polikultur lain adalah pemeliharaan nila dan udang windu, udang windu biasanya di beri pakan komersial atau buatan sedangkan ikan nila memanfaatkan makanan alami berupa fito-zooplanktoon yang tumbuh di dalam kolam.

Pemberian Pakan Dalam Budidaya Ikan Nila

Sistem budidaya scara intensif memiliki cara tersendiri yaitu tingkat kepadatan yang tinggi. Hal ini yaitu membawa konsekuensi yaitu kewajiban memberi pakan buatan, karena pakan alami tidak lah mencukupi kebutuhan pakan untuk pertumbuhan ikan dalam proses budidaya.

Sebaliknya sistem budidaya tradisional, hanyalah memanfaatkan pakan alami dengan cara menjaga kesuburan kolam agar terdapatnya pakan-pakan alami.

Berikut akan kita bahas tentang pakan alami dan pakan buatan dan frekuensi serta tingkat pemberian pakanbaik yang baik.

Baca Juga : Cara Budidaya Ikan Lele

Frekuensi Pemberian Pakan

Frekuensi pemberian pakan adalah 3-5 kali, jikan untuk ikan dederan yaiti 2-3 kali pemberian. Sementara itu untuk pemberian pakan bagi larva adalah 2-3% dari berat biomas, sedangkan untuk ikan dewasapun juga 2-3%.

Ikan nila akan mengkonsumsi pakan dalam kondisi lapar maksimal, hal ini di ketahui dengan cara memperhatikan laju pengosongan perut, tapi pada umumnya ikan nila mengalami pengosongan perut 6 jam setalah pemberian pakan.

Baca Juga : Cara Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan Nila

Pakan Alami

Pakan alami mempunyai peran penting untuk menghasilkan daging ikan sehat untuk di konsumsi. Paka alami merupakan pakan yang dapat menunjang pertumbuhan baik dalam proses budidaya ikan nila. dan juga dapat memotong pengeluaran biaya budidaya.

Ada banyak macam pakan alami sebaga  makanan ikan nila, Contohnya chlorella atau lumut adalah salah satu pakan alami untuk ikan nila.

Tentunya pakan alami harus memenuhi nutrisi yang di butuh kan oleh ikan nila.

Pakan alami yang di sukai biasa nya berupa zat-zat renik, zoo planktoon, yang melayang- layang di dalam air.

Inilah beberapa macam pakan ikan nila yang masih berumur kecil :

  • Chlorella
  • Spirulina
  • Artemia (udang kecil)
  • Daphnia (kutu air)
  • moina sp
  • larva nyamuk (jentik)

Pakan alami untuk ikan-ikan besar :

  • Chlorella
  • Spirulina
  • Azolla

Pakan alami tersebut bisa di dapatkan ataupun di budidayakan sendiri.

Pakan Buatan Untuk Budidaya Ikan Nila

Pakan buatan merupakan pakan yang di produksi khusus dengan mencukupi nutrisi yang sesuai untuk budidaya.

Pakan buatan sangat di perlukan sebagai pakan utama dalam proses budidaya ikan. Dan pakan alami adalah sebaga pakan tambahan.

Pakan buatan biasanya telah di produksi secara khusus dengan komposisi yang telah di tentukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan yang di targetkan.

Baca Juga : Cara Membuat Pakan Ikan Lele

Pakan buatan berupa Pelet apung ataupun tenggelam, powder, dan crumble. Masing-masing pakan di sesuaikan dengan umur ikan dari ukuran kecil hingga besar.

Pakan pakan tersebut biasanya telah tersedia di toko-toko pertanian atau perikanan. Dan juga telah banyak di perjual belikan secara online contoh nya di tokopedia.

Proses Panen Dalam Budidaya Ikan Nila

Panen ikan nila dapat di lakukan setelah 4 – 6 bulan setelah penebaran benih, dengan masa tersebut ikan nila di perkirakan mencapai berat 300 gram sampai 500 gram per ekor.

Waktu pelaksanaan panen di lakukan pada pagi hari atau menjelang sore hari, karena dengan kondisi udara yang sejuk dapat mengurangi stres yang berlebihan yang dapat menyebabkan banyak kematian terhadap ikan-ikan yang akan di panen.

Cara Panen

Peralatan yang di gunakan sebaiknya memiliki tekstur yang lembut agar tidak melukai tubuh-tubuh ikan.

Dalam proses panen juga harus memilih atau menyortir ikan yang berukuran besar dan kecil, karena pada dasarnya pertumbuhan ikan tidak dapat tumbuh secara merata.

Pilihlah ukuran ikan yang sesuai di butuhkan konsumen atau pasaran secara seragam.

Pasca Panen

Setelah proses pemanenan telah usai, dapat di lakukan pembersihan dan pengendapan pada kolam sebelum melakukan penebaran benih/bibit yang baru.

Pemupukan juga perlundi lakukan lagi untuk menumbuhkan zoo plankton dan lumut ataupun pakan alami yang lainya.

JawaTani Media

About the author

Pak Sapto